Dengan demikian, pendidikan dalam paradigma SNW merupakan upaya sadar dan terstruktur serta sistematis untuk mensukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah fil ardhi, di muka bumi berdasarkan tuntunan wahyu Allah swt. Sistem pendidikan seperti ini harus berasaskan tauhid, berwawasan integral dan merupakan bagian yag tak terpisahkan dari cita-cita membangun peradaban Islam. Salah satu bentuk aplikasi sistem pendidikan Islam adalah madrasah/sekolah. Sekolah sangat Interaksi fungsional antar subsistem pendidikan dikenal sebagai proses pendidikan.
Proses pendidikan ini, sebagai
proses transformasi atau perubahan kemampuan potensial individu peserta didik
menjadi kemampuan nyata untuk meningkatkan kuwalitas intelektual dan spiritual.
Proses pendidikan dapat terjadi dimana saja, sehingga berdasarkan
pengorganisasian serta struktur dan tempat terjadinya proses tersebut, dikenal
adanya pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Melalui proses ini diperoleh hasil pendidikan
yang mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Bagi pendidikan sekolah maka tujuan
pendidikannya ditetapkan berdasarkan
tingkat kebutuhan dan tetap bermuara pada tujuan pendidikan Islam. Selanjutnya,
hasil pendidikan ini dikembalikan kepada supra sistem atau lingkungan. Di dalam lingkungan inilah, hasil pendidikan
akan menjadi indikator efektivitas dan efisiensi proses pendidikan dalam sistem
pendidikan. Dari hasil pendidikan, sistem pendidikan memperoleh umpan balik
yang dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu serta proses
pendidikan.
Dari gambaran pendidikan
secara sistemik di atas diketahui bahwa terdapatnya kesinambungan tujuan
pendidikan dalam setiap jenjang pendidikan sekolah (formal) adalah semata-mata
didasarkan atas kemampuan anak didik sebagai subsistem masukan dalam menjalani
proses pendidikan. Untuk menjaga kesinambungan proses pendidikan dalam
menjabarkan pencapaian tujuan pendidikan itu maka keberadaan kurikulum
pendidikan menjadi suatu kebutuhan yang tidak terelakkan. Kurikulum pendidikan Islam sangatlah khas, unique. Kurikulum ini memiliki ciri-ciri yang sangat
menonjol pada tujuan/arah pendidikannya,
unsur-unsur pelaksana pendidikannya serta pada asas dan struktur
kurikulumnya.
1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan dalam
SNW adalah suatu kondisi yang menjadi target transformasi ilmu dan materi.
Tujuan ini merupakan panduan dan acuan
bagi seluruh kegiatan dalam sistem pendidikan. Maka, sebagaimana pengertiannya,
Pendidikan Islam merupakan upaya sadar,
terstruktur, terprogram dan sistematis
bertujuan untuk membentuk manusia sesuai dengan visi dan misi penciptaanya
yaitu sebagai ‘abdullah dan kholifah fil ardhi dengan karakteristik;
(1) Memiliki ilmu dan keluasan wawasan kehidupan aspek aqliyah
(2) Memiliki mental spiritual yang kokoh -aspek ruhiyah
(3) Memiliki keahlian dan ketrampilan aspek jismiyah.
Pada prinsipnya terdapat
lima langkah dalam metode pembentukan dan pengembangan staqafah islamiyah dalam
diri seseorang sebagaimana Allah telah membimbing Rasulullah SAW. sesuai dengan
urut urutan nuzulnya al-qur’an yaitu Pertama, menanamkan
ilmu dan aqidah Islam kepada yang bersangkutan dengan metode mengenalkan
apa sesungguhnya hakikat tuhan alam dan manusia itu. Dari sanalah akan lahir
kesadaran tauhid sebagai landasan dalam memandang hidup dan kehidupan. Kedua,
membangun cita cita menegakkan Islam sebagai konsekwensi dari
beraqidah Islam. Ketiga, membekali diri dengan ibadah
ritual, membangun hubungan dengan Allah sebagai sumber haul dan quwwah. Keempat,
mengajak untuk tampil kegelanggang menyampaikan amanat Islam. Dan
kelima membangun Islam yang utuh dengan menampilkan sosok
pribadi/keluarga/lingkungan yang islami.
a.
Memiliki keluasan ilmu
pengetahuan (tarbiyah aqliyah)
Tujuan pertama ini sebenarnya juga merupakan konsekuensi
lanjutan dari ke-Islaman seseorang. Islam mendorong setiap muslim untuk menjadi seorang manusia yang berilmu
dengan cara men-taklif-nya (memberi beban hukum) kewajiban menuntut
ilmu. Imam Al Ghazali dalamIhya Ulumuddin, Bab Ilmu, membagi ilmu dalam dua kategori ilmu berdasarkan takaran
kewajibannya. Pertama
adalah ilmu yang dikategorikan sebagai fardu a’in, yakni ilmu yang wajib
dipelajari oleh setiap individu muslim. Ilmu yang termasuk dalam golongan
ini adalah ilmu-ilmu tsaqofah Islam,
seperti pemikiran, ide dan hukum-hukum Islam (fiqh), bahasa Arab, sirah
nabawiyah, ulumu al-Qur’an dan tahfidzu al-Qur’an, ulumu
al-Hadits dan tahfidzu al-Hadits, ushu al-fiqh dan sebagainya.
Kedua adalah ilmu yang dikategorikan sebagai fardu kifayah,
yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh salah satu atau sebagian saja dari umat
Islam. Ilmu yang termasuk dalam golongan ini
adalah ilmu-ilmu kehidupan yang mencakup ilmu pengetahuan dan teknologi
serta keterampilan, seperti ilmu kimia, biologi, fisika, kedokteran, pertanian,
teknik dan sebagainya. “ Katakanlah (hai Muhammad), apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dan orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Az-Zumar: 9) “ Menuntut
ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (H.R. Ibnu Adi, Baihaqi, Anas RA,
Atthabrani dan Al Khatib dari
Al Husain bin Ali)
Dalam ayat di atas, Allah SWT menjelaskan
ketidaksamaan antara orang-orang yang
berilmu dengan yang bodoh. Antara ilmu
dan kebodohan, masing-masing memiliki martabat dan kedudukan yang berbeda di
mata masyarakat dan di sisi Allah SWT. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: “Allah
mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantara kamu, dan orang-orang
yang diberi ilmu beberapa derajat, dan
Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadalah: 11)
Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga golongan
yang akan memberi syafaat (pertolongan) di hari Kiamat:
(1) para nabi, (2) para
ulama (orang yang berilmu), (3) syuhada.” (HR. Ibnu Majah dari Usman bin Affan)
Selanjutnya, Al Qur’an mengancam
orang-orang yang telah memeluk Islam sementara mereka tidak (mau) memahami Islam dan Al Qur’an. Allah mencapnya dengan
lafaz jahiliyah.
“Mereka menyangka yang
tidak benar terhadap Allah seperti
sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “ Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak
campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah, sesungguhnya urusan itu seluruhnya
di tangan Allah.” (QS. Ali Imran: 154)
Dorongan kuat agar setiap muslim menuntut ilmu
pengetahuan membuktikan bahwa Islam
membentengi manusia dengan menjadikan
aqidah Islam sebagai satu-satunya asas bagi kehidupan seorang muslim, termasuk
dalam tata cara berpikir, berkehendak, sehingga setiap tindakannya terlebih
dulu diukurnya dengan standar aqidah Islam. Dengannya setiap muslim memiliki
pijakan yang sangat kuat dan dengan
cerdas membaca segala persoalan dam mampu mencarikan solusi secara tepat dan
Islami.
b.
Membentuk mental
spiritual/ Tarbiyah Ruhiyah
“Tidaklah beriman salah
seorang diantara kalian, sehingga dia
menjadikan hawa nafsunya mengikuti
apa-apa (dinul Islam) yang
kubawa.” (Hadits Arba’in An Nawawiyyah)
Tujuan yang kedua ini pada hakikatnya merupakan konsekuensi dari
pengetahuan dan keimanan kepada Allah yaitu
bahwa ia harus berserah diri sepenuhnya kepada Allah yang terrefleksikan
dalam keta’atan dan ketundukkan terhadap
syari’at Islam. Sebenarnya, begitu seseorang merasa mantap dengan aqidah
Islam yang dipeluknya dan bertekad membangun kepatuhan dan ketundukan kepada
Allah berdasar aqidah yang benar sudah mengindikasikan bahwa yang bersangkutan telah berhasil membentuk ruhuyah
islamiyah dalam dirinya.
b.
Memiliki ketrampilan yang
profesional (tarbiyah jismiyah)
Perhatian
besar Islam pada ilmu-ilmu teknik dan praktis serta latihan-latihan
keterampilan dan keahlian, menempatkannya sebagai salah satu tujuan pendidikan
Islam. Penguasaan keterampilan yang serba material ini juga merupakan tuntutan yang harus dilakukan oleh
umat Islam dalam rangka pelaksanaan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT. Hal
ini diindikasikan dengan terdapatnya banyak nash dalam Al Qur’an dan Hadits
yang mengisyaratkan kebolehan mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan umum atau
keterampilan (seperti yang beberapa di
antaranya telah diungkapkan sebelumnya).
Sebagaimana halnya dengan iptek, Islam juga menjadikan penguasaan keterampilan
sebagai fardlu kifayah, yaitu suatu kewajiban yang harus dikerjakan oleh
sebagian rakyat apabila ilmu-ilmu tersebut sangat dibutuhkan umat, seperti
rekayasa industri, penerbangan,
pertukangan dan lainnya. “Tuntutlah pada apa yang diberikan kepadamu oleh
Allah akan akhirat, dan jangan engkau melupakan bahagianmu di
dunia ini.” (QS. Al Qashash: 77). Juga firman Allah tentang Nabi Nuh AS.; “Buatlah
perahu dengan pengawasan dan ajaran kami.
Dan jangan kamu bercakap kepadaku tentang orang-orang yang aniaya. Sesungguhnya
mereka itu tenggelam.” (QS. Hud: 37). Begitu pula firman Allah
tentang Nabi Daud AS: “Kami ajarkan
kepadanya tentang cara membuat pakaian untuk melindungi kamu dari bahaya. Adakah kamu bersyukur.” (QS. Al
Anbiya: 80)
Tulisan ke Tiga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar