Rabu, 29 Februari 2012

Tiga Amalan Baik


Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan ada keabadian perjalanan hidup.
Oleh sebab itu, agar tidak terombang-ambing dan tetap tegar dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan hidup kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam hidup. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar yang kita singkat TIGA IS.
  1. Istiqomah. yaitu kokoh dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah.

    Begitu pentingnya istiqomah ini sampai Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam berpesan kepada seseorang seperti dalam Al-Hadits berikut:

    عَنْ أَبِيْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قُلْ لِيْ فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُهُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رواه مسلم).
    “Dari Abi Sufyan bin Abdullah Radhiallaahu anhu berkata: Aku telah berkata, “Wahai asulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab, ‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim).

    Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halal, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.

    Orang seperti itulah yang dipuji Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam Al-Qur-an surat Fushshilat ayat 30:
    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs. Fushshilat: 30)
  2. Istikharah, selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan.

    Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah.
    Nabi Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda:

    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة).
    Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

    Orang bijak berkata “Think today and speak tomorrow” (berfikirlah hari ini dan bicaralah esok hari).
    Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Tapi ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakkan kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

    Mengenai kebebasan ini, malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam untuk memberikan rambu-rambu kehidupan, beliau bersabda:

    أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدًا عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ. (رواه البيهقي عن جابر).
    Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya. (HR.Baihaqi dari Jabir).

    Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ini semakin penting untuk diresapi ketika akhir-akhir ini dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara tanpa logika dan data yang benar dan bertindak sekehendakya tanpa mengindahkan etika agama . Para pakar barang kali untuk saat-saat ini, lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada berbicara yang kadang-kadang justru membingungkan masyarakat.

    Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala langkah kita, agar kita benar-benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari.
    Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
    مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ.
    Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR. Thabrani dari Anas)
  3. Istighfar, yaitu selalu instropeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah Rabbul Izati.

    Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena ia harus diobati.

    Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir-akhir ini yang diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita instropeksi masa lalu, memohon ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan penuh keridloan Allah.

    Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan karena kemalasan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa melakukan terobosan-teroboan yang produktif, maka kreatifitas dan etos kerja umat yang harus kita tumbuhkan.

    Akan tetapi adakalanya kehidupan sosial ekonomi sebuah bangsa mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena dosa-dosa masa lalu yang menumpuk yang belum bertaubat darinya secara massal. Jika itu penyebabnya, maka obat satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat.

    Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud Alaihissalam, kepada kaumnya:
    “Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud:52).
Sekali lagi, tiada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar kita tetap tegar dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, tidak bisa tidak kita harus memiliki dan melakukan TIGA IS di atas yaitu Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.
Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan dengan keimanan dan rahmatNya yang melimpah. Amin



Oleh: Muhammad Ali Aziz

Senin, 20 Februari 2012

MEMBANGUN KEMBALI PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM


Kenichi Ohmae (1994) dalam bukunya The Borderless of The Nation State seperti dikutip dalam buku Paradigma Pendidikan Islam  yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Dewan Eksekutif Hidayatullah (1999),  mengindikasikan era milenium ketiga ini dengan melemah dan atau lenyapnya batas-batas nasionalisme (borderless of nation state).  Kegiatan manusia, dalam berbagai aspek kehidupannya yang penting, melalui dukungan teknologi  komunikasi dan informasi dengan mudah memasuki arena global. Dunia pemikiran, bisnis, politik dan aspek kemanusiaan lain yang terjadi di suatu tempat, dapat dengan mudah menjadi isu global, dan saat itu birokrasi negara (nation state), seperti Indonesia, tidak memiliki kemampuan untuk menahan isu tersebut. Banyak dampak yang terasa memilukan, bila suatu bangsa memiliki “generasi sekrup”, yang hanya disiapkan untuk bekerja secara manual atau administratif, namun tidak paradigmatik. Sebaliknya, era tersebut akan menjadi era yang membawa optimisme baru, terutama bagi mereka yang memiliki energi integritas spiritual dan intelektual. Dengan integritas inilah, mereka akan dengan mudah mendeterminasi kehidupan umat manusia melalui sebaran gagasan-gagasannya yang inovatif dan kehidupannya sendiri dapat menjadi rahmat bagi alam semesta.  Mereka inilah yang diistilahkan sebagai memiliki kecerdasan wahyuis/Qur’ani, karena berkembang dan menjadi aktual berdasarkan pada nilai-nilai dasar wahyu Allah SWT/ Al Qur’anul Karim..
Upaya untuk melahirkan generasi yang memiliki kecerdasan manusiawi berarti mengharuskan reorientasi pendidikan dan sekaligus meletakkan paradigma baru pendidikan secara umum. Setidaknya  terdapat dua langkah utama yang harus dilakukan.
Pertama, perlunya mengembangkan asumsi-asumsi dasar atau pandangan filosofis berkenaan dengan “jati diri manusia”. Sudah saatnya para pakar dan birokrat pendidikan berhenti menerapkan asumsi pendidikan Barat yang secara intelektual sebenarnya tidak dapat dipertahankan. Pencarian hakikat jati diri manusia haruslah  dikembalikan pada hakikat misi dan visi penciptaannya yaitu pandangan tentang manusia dilahirkan dengan membawa potensi fitrah Suci.
Kedua, perlunya membangun epistemologi, khususnya untuk mengim-plementasikan ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, agar memiliki sistem penjelas ilmiah dan logis. Bangunan ini dapat dilacak dari aplikasi kehidupan Islam secara menyeluruh yang secara empiris telah berlangsung selama 14 abad hingga runtuhnya Khilafah Utsmaniyah al-Islamiyyah pada 3 Maret 1924, disamping  tentu saja  melakukan kajian komprehensif terhadap  nash-nash, baik Al Qur’an dan Sunnah.
Dari kedua aspek inilah paradigma pendidikan yang diharapkan dapat diwujudkan. Dengan berpijak pada Al Qur’an dan As Sunnah, berarti sesungguhnya  telah meletakkan paradigma pendidikan berada di atas pondasi yang benar dan tak tergoyahkan. Sedangkan epistemologi, dalam konteks ini, memiliki fungsi untuk menderivasikan doktrin tersebut ke dalam bentuk teori dan konsep pendidikan, yang pada gilirannya dapat ditentukan pula model interaksi serta didaktik metodiknya. Dari sinilah akan lahir generasi baru yang terdidik dengan paradigma baru, yang pada gilirannya melahirkan kecerdasan wahyuis/Qur’ani seperti yang dimaksud.
Berpijak pada paparan di atas, maka membangun paradigma baru pendidilkan hanya akan memiliki satu arti, yakni (membangun) kembali pada paradigma pendidikan Islam. Maka, Pendidikan dalam perspektif Islam didefinisikan secara tuntas dan utuh sebagai upaya sadar, terstruktur, terprogram  dan sistematis untuk membentuk manusia yang memiliki kecerdasan manusiawi sebagai rahmat bagi sekalian alam; yang ditunjukkan oleh 4 indikator karakter, yakni;
 (1) berkepribadian Islam berdasar wahyu Al Qur’andan As-Sunnah
(2) menguasai ilmu fardhu ‘ain/ tsaqofah/pengetahuan Islam,
(3) menguasai ilmu fardhu kifayah/menguasai ilmu kehidupan dan
(4) memiliki skill/keterampilan profesional 
Pandangan tentang Hakikat pendidikan menurut Islam terkait dengan pandangan Islam tentang manusia, yakni tentang hakikat penciptaan manusia. Hakikat ini dapat ditelusuri  melalui  analisis terhadap pola Sistematika Nuzulnya Wahyu yang diangkat dari gagasan K.H. Al Ustadz Abdullah Said(Alm).

SISTEMATIKA NUZULNYA WAHYU : SEBAGAI PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM
Gagasan   tentang  sistematika nuzulnya wahyu lahir dari hasil pengamatan Al Ustadz Abdullah Said  yang mendalam terhadap perihal memahami Al Qur’an. Suharsono, et.al. (1999) dalam buku Pola Transformasi Islam, Refleksi atas Sistematika Nuzulnya Wahyu menyatakan bahwa   Al Qur’an  sendiri sesungguhnya telah “memilih” cara, bagaimana mestinya ia harus dipahami.  Dalam serangkaian ayat-ayat suci ditegaskan bahwa dalam membaca Al Qur’an, manusia dilarang membacanya dengan tergesa-gesa, namun harus  dengan penuh perhatian dan memohon kepada Allah agar ditambahkan ilmunya. “ Maka Maha Tinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an  sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”Q.S. Thaha: 114
Al Qur’an  diturunkan secara berangsur-angsur  dalam bahasa Arab,  yang dengannya dimungkinkan terjadi proses internalisasi pemahaman.  Dengan metode turunnya ayat secara bertahap ini pula, ada kesempatan  untuk mempraktekkannya dan mencerapnya, sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW yang juga mengajarkan ayat-ayat ini secara bertahap kepada para shahabat, agar mereka lebih mengerti dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan. Dalam perspektif ilmiah, metode bertahap ini  dinilai paling tepat dalam melakukan proses transmisi nilai-nilai dan pengetahuan dalam  pendidikan.
Perhatian  terhadap turunnya wahyu-wahyu yang pertama ini sangat penting, karena dengan kecermatan tertentu dapat disimpulkan bahwa wahyu-wahyu pertama yang turun itu ternyata “membentuk” suatu pola sistematika yang sangat khas dan bersifat paradigmatik. Pola inilah yang  diperkenalkan oleh Al Ustadz Abdullah Said sebagai “Sistematika Nuzulnya Wahyu”. Dengan merujuk pada KH Moenawar Chalil dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAWsebagaimana dikutip Suharsono, et.al. (1999) dalam buku Pola Transformasi Islam, Refleksi atas Sistematika Nuzulnya Wahyu wahyu-wahyu pertama yang paradigmatik, terutama  dalam membangun gerakan dan peradaban Islam, secara berturut-turut adalah:
                             ·       QS Al Alaq, ayat 1 - 5
                             ·      QS Al Qalam,  ayat 1 - 7
                             ·      QS Al Muzammil, ayat 1 - 10
                             ·      QS Al Mudatstsir, ayat 1 - 7
                             ·      QS  Al Fatihah, ayat 1 – 7
Al Ustadz Abdullah Said memandang bahwa wahyu-wahyu pertama yang turun ini sebenarnya memiliki pola konsistensi logis yang luar biasa, berkenaan dengan pelahiran dan pengembangan suatu gerakan yang bersifat universal.  Wahyu-wahyu itu juga mencerminkan  suatu paradigma  transformasi sosial yang berciri khas tauhid yang sama sekali berbeda dengan pola-pola ateistik  atau meterialistik. Dengan demikian maka menjadi nyata bahwa “jalan” penyelamatan yang ditempuh Rasulullah benar-benar berbeda dari sejak awalnya bila dibandingkan dengan jalannya orang-orang yang dimurkai.
Lima ayat pertama dari Surat Al Alaq adalah jawaban kontekstual  terhadap problema kemanusiaan yang paling mendasar dan terjadi saat itu.  Dalam perspektif asbabun nuzul, dapat dilihat bahwa berbagai kejahatan, pelanggaran, tindakan tercela yang begitu merata dalam masyarakat Arab jahiliyah itu terjadi karena mereka mengalami “disorientasi”  kehidupan.  Meluasnya penindasan dan perbudakan adalah  bukti bahwa masyarakat Arab jahiliyah tidak lagi mengenal jati diri sebagai manusia.  Lima ayat ini turun  sebagai jawaban orientatif, dengan memberikan penjelasan tentang Tuhan,  manusia dan alam serta pola  dan proses yang menjadi standar untuk mengetahuinya.


Tulisan kedua 
Oleh : Drs H. Ahkam Sumadiana MA



Senin, 06 Februari 2012

PARADIGMA PENDIDIKAN DAN PENGARUHNYA PADA DUNIA PENDIDIKAN



foto documen
Menurut buku Paradigma Pendidikan Islam  yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Dewan Eksekutif Hidayatullah (1999), pada umumnya konsep atau paradigma pendidikan disandarkan pada pandangan tentang manusia, mengingat pendidikan memiliki concern utama terhadap manusia.  Tanpa adanya pandangan filosofis tentang manusia,  konsep apapun yang berfungsi untuk perekayasaan manusia, termasuk  pendidikan, tidak dapat dibangun dengan baik.
Maka para pakar pendidikan, baik  yang di negara Barat maupun Timur,  termasuk Indonesia berlomba menyajikan pandangan-pandangan filosofis tentang manusia. Tapi menyimak karya-karya tentang pendidikan yang ada, para pakar dalam bidang ini tampaknya lebih banyak mengacu pada pemikiran-pemikiran filosofis Eropa pasca renaisans yang juga mengutip pandangan-pandangan Aristoteles yang lahir beberapa abad sebelum masehi. Sayangnya pandangan para filosof tersebut cenderung ditelan begitu saja, tanpa adanya verifikasi yang memadai.  Persoalannya adalah, apakah pandangan-pandangan yang ada telah mencerminkan jati diri manusia yang sesuangguhnya, sehingga memungkinkan dibuat konsep pendidikan yang tepat?
Persoalan ini menjadi penting untuk diketengahkan, karena kesalahan dalam membangun asumsi-asumsi dasar pendidikan yang berkenaan dengan diri manusia  akan memberikan dampak buruk bagi manusia itu sendiri. Bagaikan membangun sebuah gedung pencakar langit, meski secara struktural tepat, tetapi bila tumpuannya tidak kuat. Dengan sangat mudah  bangunan itu runtuh. Demikian pula halnya dengan pendidikan, meskipun bangunan konsepsionalnya telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yang ada, akan tetapi bila asumsi dasarnya  keliru, pastilah konsep yang demikian ini akan mengalami  kehancuran, yang pada gilirannya justru akan merugikan  manusia.
Pandangan-pandangan filosofis tentang manusia, sebagaimana dikemukakan John Locke, Sigmund Freud, Carl Jung, Abraham Maslow dan lain-lain yang banyak disebutkan oleh pakar pendidikan, begitu juga dengan pandangan filosof eksistensialisme Barat, dalam berbagai variannya, seperti  Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dan bahkan Neitzche adalah produk dari penyikapan oposisional terhadap otorianisme dogmatis gereja.
Pandangan gereja ortodoks khususnya tentang manusia, merupakan dogma dengan “jubah teologis”  tidak membiarkan pikiran manusia berkembang dan merespons situasi yang dihadapinya. Otorianisme  pandangan gereja ini membelenggu kesadaran masyarakat Eropa, dan kemudian menimbulkan perlawanan intelektual, seperti Galileo-Galilei, Erasmus, Michel Angelo dan lainnya. Buah dari perlawanan ini adalah dekonstruksi pandangan gereja yang melahirkan pandangan baru “sekulerisme”. Bagi Fritjhof Schuon, apa yang dibanggakan orang Eropa dengan era renaisan dan pencerahan sebenarnya tidak lebih dari “kegelapan zaman yang berlapis-lapis” karena ia memandang bahwa masyarakat Eropa, terutama kalangan cendikiawannya, telah membuang dimensi  transendensi yang menjadi sumber cahaya kehidupan.
Paradigma pendidikan barat yang dikembangkan dari  pandangan sekulerisme itu  lebih mengacu pada pandangan-pandangan John Locke. Paradigma yang berbasis pada pandangan bahwa manusia ibarat kertas putih sesuai dengan teori tabularasa, menafikan fitrah definitif yang dimiliki oleh manusia. Dengan pijakan ini, maka menurutnya, tugas pendidikan adalah mengisi, mengukir  dan membentuk, yang membuat anak didik merasa tergantung, karena pandangannya yang keliru atas eksistensi manusia. Dalam paradigma ini, guru memiliki pretensi yang tinggi, sebagai subordinasi dari kepentingan politik pemerintah atau birokrasi yang merancang anak didiknya menjadi “sesuatu dan sesuai” sebagaimana diinginkan oleh mereka yang berwenang. Peranan guru tak lebih  dari sekadar buruh yang diupah yang harus menyampaikan  sesuatu (materi pelajaran), tanpa merasa perlu bertanggung jawab atas masa depan anak didiknya, karena memang hal  itu tidak diperlukan (dalam pendidikan yang direkayasa seperti ini). Karena itu model  kecerdasan yang terbentuk bersifat segmentatif dan pragmatis. Dalam proses pendidikan seperti ini, manusia tersubordinasi ke dalam keahliannya, sehingga sense of mankind-yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia menjadi kabur bahkan lenyap.
Dalam suatu dunia, di mana umat manusia terjebak dalam ilusi kesadarannya yang pragmatis dan materialis, pendidikan dengan sendirinya tersubordinasi ke dalam ekonomi, lebih khusus lagi industri. Tugas pendidikan adalah menyiapkan manusia sekadar menjadi tenaga kerja, subordinasi industri. Dimensi-dimensi substantif diri manusia dilenyapkan, sehingga kehadiran mereka tersubordinasikan ke dalam mesin-mesin industri. Pendidikan seperti inilah yang dikritik oleh Van Cleve Morris – sebagaimana dikutip Bayraktar Bayrakkli dalam buku Filsafat Wujud (1999) -- yang menyatakan bahwa manusia modern ini tak lebih dari sekadar “sekrup” industri.
 Apa yang dapat direnungkan dari paparan singkat pergolakan sosial, pemikiran dan teologis  masyarakat Eropa yang berujung pada sekulerisasi kehidupan ini adalah, bahwa pandangan filosofis terutama berkenaan dengan jati diri manusia, pada dasarnya bergerak dari suatu nilai ekstrim yang keliru kepada nilai ekstrim lain yang tidak kalah kelirunya. Karena itu menerima pandangan-pandangan para filosofis sebagaimana tersebut di atas, tanpa mengelaborasinya secara kritis, bukan saja keliru tetapi juga gegabah dan akan menjerumuskan manusia khususnya  umat Islam, melalui penyelenggaraan  pendidikan.
Pengamatan dan kajian mendalam yang telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Dewan Eksekutif Hidayatullah (Paradigma Pendidikan Islam, 1999) menemukan tiga aspek  penting yang berkenaan dengan pendidikan di Indonesia. Pertama adalah bahwa sejak kemerdekaan hingga dewasa ini, paradigma pendidikan di Indonesia sebenarnya tak lebih dari sekedar imitasi “yang tidak dimengerti”.  Dikatakan demikian, karena sejauh ini para pakar pendidikan di Indonesia tidak serius bahkan enggan  memasuki diskursus filosofis, terutama berkenaan dengan dimensi-dimensi esoterik manusia.  Hal ini tercermin dalam karya-karya mereka tentang pendidikan yang gemar mengutip pandangan para filosof barat, terutama Yunani klasik dan era renaisan, namun sedikit sekali memberikan komentar apalagi kritik  terhadap pandangan tersebut. Lebih tragis lagi, karya-karya ini juga tampaknya tidak peduli bagaimana suatu pandangan dasar pendidikan yang secara epistemik harus dipertanggungjawabkan, diimplementasikan dalam suatu masyarakat dengan budaya dan agama yang berbeda.  Sementara, dimensi esoterik  manusia adalah suatu aspek yang paling menentukan dalam membangun asumsi-asumsi dasar pendidikan.
Kedua,  mereka juga tidak berpikir secara epistemologis, yang memungkinkan sebuah doktrin atau ajaran bisa diderivasikan dalam dataran ilmiah. Ketiga, birokrasi di Indonesia tidak berpikir serius yang memungkinkan lahirnya paradigma pendidikan yang berarti, untuk mengatasi beban generasi muda di masa-masa yang akan datang.
Mentalitas birokrasi dan pakar pendidikan lebih bersifat imitatif dan tergantung pada paradigma pendidikan Barat tanpa melakukan verifikasi yang memadai. Karena itu, ketika pendidikan  dirancang dalam dan tersubordinasi secara massif pada industri, salah satunya terkenal dengan konsep link and mach, dengan sendirinya mudah tergoncang ketika krisis ini terjadi. Lebih dari itu adalah tiadanya perhatian yang berarti dari pemerintah yang tercermin dari kecilnya rasio anggaran di bidang pendidikan dan gaji pendidik, untuk membangun sistem pendidikan yang memadai bagi masa depan generasi mendatang. Apa yang kemudian terjadi adalah output pendidikan tersebut menjadi beban sosial. Bagaikan sekrup yang berceceran di jalan-jalan, mereka mengganggu perjalanan “manusia”.
Perjalanan pendidikan di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir ini mengindikasikan betapa kuatnya cengkraman pengaruh ideologi sekuler. Kuatnya arus informasi, terutama melalui media elektronik, yang membawa pesan serta nilai sekuler beserta derivatnya seperti  paham materialisme, sinkretisma dan bahkan juga ateisme, telah mempengaruhi struktur dan kesadaran sosial. Masyarakat telah berubah dan mengalami degradasi nilai serta moral.  Jika pada masa-masa dahulu masyarakat dipandang sebagai institusi pendidikan (meskipun bersifat informal), karena nilai-nilai dan etika yang terdapat di dalamnya dapat diserap dan sekaligus membantu perkembangan positif kepribadian anak dan anak didik, namun kini yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat yang ada telah tercemar dan polutif, sehingga banyak orang tua yang mengkhawatirkan perkembangan mental anaknya, jika terlalu banyak bergaul dengan masyarakat di sekitarnya.
Pada saat yang sama keberadaan sekolah, sebagai benteng terakhir pendidikan, kenyataannya juga telah banyak diwarnai dengan tindakan dan aksi kekerasan, yang bahkan membahayakan dan mengancam jiwa anak didik sendiri. Banyaknya tawuran pelajar,narkoba, tindak kriminal dan penyimpangan moral yang dilakukan oleh sebagian pelajar adalah fenomena yang sangat mengkhawatirkan bagi keutuhan sistem pendidikan yang diharapkan. Berbagai persoalan, baik eksternal maupun internal yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia, mengharuskan adanya pemikiran baru tentang  pendidikan yang memungkinkan dilahirkannya out put didik yang dapat mengatasi problem-problem intelektual dan kehidupannya.
Karena itu mempertahankan pola pendidikan yang ada selama ini sudah tentu merupakan pekerjaan yang tidak perlu, bahkan tidak boleh dilakukan. Meski demikian, tidak berarti mengubah pola pendidikan yang telah ada dengan kebijakan tambal sulam akan menyelesaikan persoalan. Di tengah berbagai perubahan dan beratnya tantangan era milenium ketiga, yang kini mulai mendera bangsa Indonesia karena ketidaksiapannya menghadapi era tersebut, mengharuskan kita untuk berfikir serius dan membangun pradigma baru pendidikan untuk mengantisipasi era global yang menuntut kompetensi dan superioritas.

Tulisan Pertama 
 Oleh Drs. H. Ahkam Sumadiyana MA

Jumat, 03 Februari 2012

Bagaimana Meraih Ilmu Yang Bermanfaat ?


Definisi Ilmu Yang Bermanfaat (Al ‘Ilmu An Naafi’)
Imam Ibnu Rajab Al Hambali menyebutkan definisi Ilmu yang bermanfaat dengan dua penjelasan yang lafazhnya berbeda, akan tetapi keduanya saling melengkapi dan sama sekali tidak bertentangan.
Foto : Siswa SD Integral Al - Bayan
Dalam kitab beliau “Fadhlu ‘ilmis salaf ‘ala ‘ilmil khalaf” (hal. 6) beliau berkata: “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil dari Al Qur-an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta (berusaha) memahami kandungan maknanya, dengan mendasari pemahaman tersebut dari penjelasan para sahabat Rasulullah radhiyallahu ‘anhum, para Tabi’in (orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat), dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka dalam memahami kandungan Al Qur-an dan Hadits. (Begitu pula) dalam (memahami penjelasan) mereka dalam masalah halal dan haram, pengertian zuhud, amalan hati (pensucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala) dan pembahasan-pembahasan ilmu lainnya, dengan terlebih dahulu berusaha untuk memisahkan dan memilih (riwayat-riwayat) yang shahih (benar) dan (meninggalkan riwayat-riwayat) yang tidak benar, kemudian berupaya untuk memahami dan menghayati kandungan maknanya. Semua ini sangat cukup (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat) bagi orang yang berakal dan merupakan kesibukkan (yang bermanfaat) bagi orang yang memberi perhatian dan berkeinginan besar (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat)”.
Adapun dalam kitab beliau yang lain “Al Khusyuu’ fish shalaah” (hal. 16) beliau berkata, “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang masuk (dan menetap) ke dalam relung hati (manusia), yang kemudian melahirkan rasa tenang, takut, tunduk, merendahkan dan mengakui kelemahan diri di hadapan AllahTa’ala”.
Kedua penjelasan Imam Ibnu Rajab ini sepintas kelihatannya berbeda dan tidak berhubungan, akan tetapi kalau diamati dengan seksama kita akan dapati bahwa kedua penjelasan tersebut sangat bersesuaian dan bahkan saling melengkapi. Karena pada penjelasan definisi yang pertama, beliau ingin menjelaskansumber ilmu yang bermanfaat, yaitu ayat-ayat Al Qur-an dan hadits-hadits yang shahih (benar periwayatannya) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dipahami berdasarkan penjelasan dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Tabi’in (orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat), dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka. Ini berarti, seseorang tidak akan mungkin sama sekali bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat tanpa mengambilnya dari sumber Al ‘Ilmu An Naafi’yang satu-satunya ini.
Adapun dalam penjelasan definisi yang kedua, beliau ingin menjelaskan hasil dan pengaruh dari ilmu yang bermanfaat, yaitu menumbuhkan dalam hati orang yang memilikinya rasa tenang, takut dan ketundukan yang sempurna kepada Allah Ta’ala. Ini berarti bahwa ilmu yang cuma pandai diucapkan dan dihapalkan oleh lidah, tetapi tidak menyentuh – apalagi masuk – ke dalam hati manusia, maka ini sama sekali bukanlah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu seperti ini justru akan menjadi bencana bagi orang yang memilikinya, bahkan  menjadikan pemiliknya terkena ancaman besar – semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua – termasuk ke dalam tiga golongan manusia yang pertama kali menjadi bahan bakar api neraka, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih([3]).
Jenis ilmu inilah yang dimiliki oleh orang-orang Khawarij([4]) dan kelompok-kelompok bid’ah lainnya yang menjadikan mereka menyimpang sangat jauh dari pemahaman islam yang benar, sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menerangkan sifat-sifat Khawarij dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Mereka selalu mengucapkan kata-kata yang baik (dan indah kedengarannya), mereka (mahir) dalam membaca (dan menghafal) Al Qur-an. Akan tetapi bacaan tersebut tidak melampaui tenggorokan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka), mereka keluar dengan cepat dari agama ini seperti anak panah yang (menembus dan) keluar dengan cepat dari sasarannya…”([5]).
Sebaliknya, Allah Ta’ala memuji orang-orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat dan meneguhkan keimanan mereka dengan menjadikan Al Qur-an sebagai sumber petunjuk yang menetap di dalam hati mereka, Allah Ta’ala berfirman,
بَلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
Sebenarnya, Al Qur-an itu adalah ayat-ayat yang jelas (yang terdapat) di dalam dada (hati) orang-orang yang diberi ilmu. (QS Al ‘Ankabuut: 49).
Imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat di atas berkata, “Maknanya: Al Qur-an adalah ayat-ayat yang nyata dan jelas sebagai petunjuk kepada (jalan) yang benar, dalam perintah, larangan maupun berita (yang dikandung)nya, dan Allah memudahkan bagi orang-orang yang berilmu untuk menghafal, membaca dan memahami (kandungan)nya”([6]).
Syarat Mendapatkan Ilmu Yang Bermanfaat
Setelah kita memahami definisi ilmu yang bermanfaat, dan bahwasanya hafalan yang kuat, atau kemampuan yang mengagumkan dalam berceramah dan menyampaikan materi kajian, maupun gelar dan titel yang disandang seseorang, tidaklah menjadi jaminan bahwa ilmu yang dimilikinya adalah ilmu yang bermanfaat yang akan selalu membimbingnya dalam menuju ridha Allah I, apalagi dengan melihat kenyataan di jaman sekarang banyak orang yang dipuji karena hal-hal di atas, tapi sama sekali tidak terlihat pengaruh dan manfaat ilmu yang dipelajarinya dalam akhlak dan tingkah lakunya. Maka setelah itu, timbul pertanyaan, bagaimanakah cara untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat itu? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat, bagaimanakah cara untuk menjadikan ilmu yang kita pelajari bermanfaat bagi kita dalam membimbing kita untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala, sehingga semakin banyak ilmu yang kita pelajari semakin kuat pula keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah?
Untuk menjawab pertanyaan penting di atas, dengan memohon taufik dari Allah Ta’ala, kami akan menyampaikan kesimpulan dari tulisan Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah tentang cara mengambil manfaat dari Al Qur-an (termasuk ilmu agama lainnya secara keseluruhan) dan syarat-syaratnya, dalam kitab beliau “Al Fawaaid” (hal. 9-10), dengan tambahan penjelasan dari kami untuk mempermudah dalam memahaminya.
Dalam pembahasan tersebut Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa secara umum untuk bisa mengambil pengaruh dan manfaat yang maksimal dari segala sesuatu yang ingin kita ambil pengaruh darinya, makaada empat faktor yang harus diwujudkan, semakin sempurna keempat faktor ini terwujud maka semakin maksimal pula pengaruh yang kita dapatkan darinya. Keempat faktor itu adalah: [1] sumber pengaruh yang baik, [2] media untuk menerima pengaruh, [3] upaya untuk mendapatkan pengaruh tersebut, dan [4] upaya untuk menghilangkan penghalang dan penghambat yang menghalangi sampainya pengaruh tersebut.
Dalam hubungannya dengan mengambil manfaat dan pengaruh yang baik dari ilmu agama yang kita pelajari, keempat faktor tersebut terangkum dalam kalimat yang ringkas tapi sarat makna dalam firman Allah Ta’ala,
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan (pelajaran) bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang mengkonsentrasikan pendengarannya, sedang dia menghadirkan (hati)nya” (QS Qaaf:37).
Penjelasan tentang keempat faktor tersebut adalah sebagai berikut:
Faktor pertama: sumber pengaruh (ilmu) yang baik, ini diisyaratkan dalam potongan ayat di atas, (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan (pelajaran)”), artinya, kalau kita ingin mendapatkan pengaruh yang baik dan manfaat dari ilmu yang kita pelajari, maka kita benar-benar harus memilih sumber rujukan ilmu yang terjamin kebaikannya.
Karena tujuan kita mempelajari ilmu agama tentu saja bukan hanya untuk sekedar menambah wawasan atau sekedar teori yang hanya berupa hafalan yang kuat atau kemampuan yang mengagumkan dalam berceramah, tapi tujuan kita adalah agar ilmu tersebut memberikan manfaat dalam membimbing kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Sehingga sumber ilmu yang kita jadikan rujukan benar-benar harus terbukti bisa mewujudkan tujuan tersebut.
Oleh karena itulah, Al Qur-an dan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah sumber ilmu bermanfaat yang paling utama karena keduanya adalah wahyu dari Allah Ta’ala yang memiliki sifat-sifat yang maha sempurna. Demikian pula kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama salaf dan para ulama yang mengikuti petunjuk mereka, karena kitab-kitab ditulis oleh orang-orang yang benar-benar memiliki keikhlasan, ilmu dan ketakwaan, sehingga manfaatnya dalam mentransfer kebaikan dan ketakwaan kepada orang yang mengkajinya jelas lebih besar dari pada kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut.
Imam Ibnul Jauzi dalam kitab beliau “Shifatush shafwah” (4/122)([7]) menukil ucapan Hamdun bin Ahmad Al Qashshar([8]) ketika beliau ditanya, “Apa sebabnya ucapan para ulama salaf lebih besar manfaatnya dibandingkan ucapan kita?” Beliau menjawab, “Karena mereka berbicara (dengan niat) untuk kemuliaan Islam, keselamatan diri (dari azab Allah Ta’ala), dan mencari ridha Allah Ta’ala, adapun kita berbicara (dengan niat untuk) kemuliaan diri (mencari popularitas), kepentingan dunia (materi), dan mencari keridhaan manusia”.
Demikian pula termasuk dalam posisi sebagai sumber pengaruh dalam hal ini adalah seorang da’i dan ustadz yang menyampaikan ceramah atau kajian ilmu agama. Oleh karena itu, memilih pendidik ilmu agama yang baik dalam ilmu dan ketakwaannya adalah kewajiban yang selalu ditekankan oleh para ulama ahlus sunnah bagi para penuntut ilmu. Karena kalau seorang da’i atau ustadz tidak memiliki ketakwaan dalam dirinya, maka bagaimana mungkin dia bisa menjadikan muridnya memiliki ketakwaan sedangkan dia sendiri tidak memilikinya? Salah satu ungkapan Arab yang terkenal mengatakan:
فاقِِدُ الشيء لا يُعْطِيه
Sesuatu yang tidak punya tidak bisa memberikan apa-apa” ([9]).
Dalam sebuah ucapannya yang terkenal Imam Muhammad bin Sirin berkata, “Sesungguhnya ilmu (yang kamu pelajari) adalah agamamu (yang akan membimbingmu mencapai ketakwaan), maka telitilah dari siapa kamu mengambil (ilmu) agamamu”([10]).
Faktor penting inilah yang merupakan salah satu sebab utama yang menjadikan para sahabat Nabi r menjadi generasi terbaik umat ini dalam pemahaman dan pengamalan agama mereka. Bagaimana tidak? Da’i dan pendidik mereka adalah Nabi yang terbaik dan manusia yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala, yaitu Nabi kita Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makna inilah yang diisyaratkan oleh AllahTa’ala dalam firman-Nya,
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ
Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian (wahai para sahabat Nabi), (sampai) menjadi kafir, karena ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian (sebagai pembimbing)” (QS Ali ‘Imraan:101).
Imam Ibnu Katsir berkata, “Makna ayat di atas: sesungguhnya kekafiran itu sangat jauh dan tidak akan mungkin terjadi pada diri kalian (wahai para sahabat Nabi), karena ayat-ayat Allah turun kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di waktu siang dan malam, yang kemudian beliau membacakan dan menyampaikan ayat-ayat tersebut kepada kalian”([11]).
Contoh lain tentang peranan seorang pendidik yang baik adalah apa yang disebutkan dalam biografi salah seorang Imam besar dari kalangan tabi’in, Hasan bin Abil Hasan Al Bashri([12]) dalam kitab “Siyaru A’laamin Nubala’” (2/576), ketika Khalid bin Shafwan([13]) menerangkan sifat-sifat Hasan Al Bashri kepada Maslamah bin Abdul Malik([14]) dengan berkata, “Dia adalah orang yang paling sesuai antara apa yang disembunyikannya dengan apa yang ditampakkannya, paling sesuai ucapan dengan perbuatannya, kalau dia duduk di atas suatu urusan maka diapun berdiri di atas urusan tersebut…dan seterusnya”. Setelah mendengar penjelasan tersebut Maslamah bin Abdul Malik berkata, “Cukuplah (keteranganmu), bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat (dalam agama mereka) kalau orang seperti ini (sifat-sifatnya) ada di tengah-tengah mereka?
Oleh karena itulah, ketika seorang penceramah mengadu kepada Imam Muhammad bin Waasi’([15]) tentang sedikitnya pengaruh ceramah yang disampaikannya dalam merubah akhlak orang-orang yang diceramahinya, maka Muhammad bin Waasi’ berkata, “Wahai Fulan, menurut pandanganku, mereka ditimpa keadaan demikian (tidak terpengaruh dengan ceramah yang kamu sampaikan) tidak lain sebabnya adalah dari dirimu sendiri, sesungguhnya peringatan (nasehat) itu jika keluarnya (ikhlas) dari dalam hati  maka (akan mudah) masuk ke dalam hati (orang yang mendengarnya)” ([16]).
Faktor kedua: Media untuk menerima pengaruh dan manfaat dari ilmu, dalam hal ini adalah hati yang bersih, ini yang diisyaratkan dalam potongan ayat di atas, (“bagi orang-orang yang mempunyai hati”). Artinya, kalau kita ingin mendapatkan pengaruh yang baik dan manfaat dari ilmu yang kita pelajari, maka kita benar-benar harus membersihkan dan menyiapkan hati kita, karena ilmu yang bermanfaat tidak akan masuk dan menetap ke dalam hati yang kotor dan dipenuhi noda syahwat atau syubhat.
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Yang dimaksud dengan hati (sebagai media untuk menerima manfaat dan pengaruh dari ilmu di sini) adalah hati yang hidup (bersih dari noda syahwat atau syubhat) yang bisa memahami (peringatan) dari Allah, sebagaimana (yang disebutkan dalam) firman-Nya,
إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآَنٌ مُبِينٌ (69) لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا
Al Qur-an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya)” (QS Yaasiin: 69-70)([17]).
Oleh karena itu, upaya untuk melakukan tazkiyatun nufus (pembersihan hati dan pensucian jiwa) adalah hal yang wajib dan harus mendapat perhatian besar bagi para penuntut ilmu yang menginginkan manfaat yang baik dari ilmu yang dipelajarinya.
Secara ringkas, berdasarkan pengamatan terhadap ayat-ayat Al Qur-an dan hadits-hadits Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa untuk mengupayakan pembersihan dan pensucian jiwa, serta mengobati penyakit-penyakit hati yang menghalangi masuknya ilmu yang bermanfaat, maka ada tiga macam terapi penyembuhan yang harus ditempuh, yang beliau istilahkan dengan “madaarush shihhah” (ruang lingkup penyembuhan), dan ketiga macam cara inilah yang  diterapkan oleh para dokter dalam mengobati pasien mereka. Tiga macam cara penyembuhan tersebut adalah:
1). Hifzhul quwwah (memelihara kekuatan dan kondisi hati), yaitu dengan memperbanyak melakukan ibadah dan amalan shaleh untuk meningkatkan keimanan, seperti mambaca Al Qur-an dengan menghayati kandungan maknanya, berzikir, mempelajari ilmu agama yang bermanfaat, utamanya ilmu tauhid, dan lain-lain.
2). Al Himyatu ‘anil mu’dzi (menjaga hati dari penyakit-penyakit lain), yaitu dengan cara menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa, maksiat dan penyimpangan-penyimpangan syariat lainnya, karena dosa-dosa tersebut akan semakin memperparah dan menambah penyakit hati.
3). Istifragul mawaaddil faasidah (menghilangkan/membersihkan bekas-bekas jelek/noda-noda hitam dalam hati yang merusak, sebagai akibat dari perbuatan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan), yaitu dengan cara beristigfar (meminta pengampunan) dan bertaubat dengan taubat yang nashuh (ikhlas dan bersungguh-sungguh) kepada Allah Ta’ala([18]).
Faktor ketiga: upaya untuk mendapatkan pengaruh baik dan manfaat dari ilmu, yaitu dengan cara mengkonsentrasikan pendengaran kita terhadap nasehat dan peringatan yang disampaikan di hadapan kita. Ini yang diisyaratkan dalam potongan ayat di atas, (“Atau orang yang mengkonsentrasikan pendengarannya”).
Maksud dari faktor yang ketiga ini adalah, setelah kita mengupayakan sumber pengaruh ilmu yang baik, demikian pula media untuk menerima pengaruh baik tersebut, maka mestinya pengaruh baik dan manfaat dari ilmu tetap tidak akan didapat tanpa ada penghubung yang menghubungkan antara sumber dan media tersebut. Maka dalam hal ini, banyak membaca Al Qur-an dengan berusaha mengahayati kandungan maknanya, menghadiri majelis ilmu yang bermanfaat, mendengarkan ceramah dan menelaah buku-buku sumber ilmu yang bermanfaat adalah upaya yang harus kita lakukan dan terus ditingkatkan agar manfaat dan pengaruh baik dari ilmu makin maksimal kita dapatkan.
Faktor keempat: upaya untuk menghilangkan penghalang dan penghambat yang menghalangi sampainya pengaruh baik dari ilmu yang bermanfaat. Ini diisyaratkan dalam potongan ayat di atas, (“Sedang dia menghadirkan (hati)nya”). Ini berarti bahwa kelalaian dan berpalingnya hati dari memahami dan menghayati kandungan ilmu ketika ketika kita membaca Al Qur-an, menhadiri majelis ilmu, atau mendengarkan ceramah, ini adalah penghambat utama yang mengahalangi sampainya pengaruh dan manfaat dari ilmu yang sedang kita baca atau dengarkan.
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, MA
Sumber :www.muslim.or.id