Rabu, 23 November 2011

Selamat menyambut pesta semester 1 (satu) 2011

f



Mari Sukseskan Pesta Ujian Semester 1 (Satu) 
Tanggal 12 - 16 Desember 2011



Siapkan Bekal Menghadapi Ujian Semester  

Jumat, 18 November 2011

Khasiat Susu Kedelai


 Susu kedelai mulai populer di kalangan banyak masyarakat sebagai pilihan baru selain susu sapi. Susu kedelai mudah didapat dan murah harganya. Susu kedelai memiliki nilai lebih baik dari susu sapi dan susu formula. Berikut paparan manfaat kandungan dari susu kedelai.

1. Protein
Protein yang terkandung dalam susu kedelaitersusun dari asam amino berupa lesitin, arginin, lisin, glisin, niasin, leusin, isoleusin, trionin, triptofan, fenillalanin. Berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh, memperbaiki jaringan rusak, menjaga pertumbuhan tubuh.

2. Karbohidrat, Lemak Nabati
Sebagai sumber energi dalam tubuh, sebagai lemak baik dalam tubuh.
Serat/Fiber
Sangat baik untuk memperlancar pencernaan makanan dan pembuangan.

3. Vitamin A
Vitamin yang berguna untuk menjaga kesehatan mata, membantu proses reproduksi, melancarkan sistem kerja saraf tubuh.

4. Vitamin B1 dan B2
Berfungsi untuk memancing reaksi-reaksi proses dalm tubuh dan vit B2 sebagai pigmen pada susu sapi dan susu kedelai.

5. Vitamin E
Mencegah kanker kulit, mencegah keriput kulit, membantu proses menstruasi, mencegah impotensi, mengobati kadiovaskular (penyakit jantung), dan antioksidan.

6. Mineral
Sebagai penambah kekuatan pada struktur tulang gigi, kuku, juga sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit.

7. Polisakarida
Berfungsi sebagai pengendali kadar gula yang berlebih dalam darah.

8. Isoflavon
Sebagai zat ajaib susu kedelai, guna menyehatkan tubuh lebih bugar pantang terkena berbagai penyakit.

9. Kolesterol Baik (HDL)
Dalam tubuh terdapat
 kolesterol jahat yang menuai pengapuran pembuluh darah. Maka HDL atau kolesterol baik dalam susu kedelai mampu mencegah pengapuran tersebut dengan melawan kolesterol jahat.

10. Kalsium
Kalsium dalam
 susu kedelai Berfungsi sebagai pembentuk kandungan tulang baru, memperkuat tulang, mengatur fungsi otot, meredarkan darah dengan normal, mengontrol asam lemak di usus.
Dengan ringkasan manfaat susu kedelai ini semoga bisa menjadikan susu kedelai yang kaya gizi sebagai minuman pilihan menggantikan soda, softdrink, ataupun alkohol.
Semoga Bermanfaat!
Bisa Didapatkan di Kantin Sekolah SD Integral Al - Bayan Mks 
Phone : 0852 30 66 0209 / edy NR


Kamis, 17 November 2011

Ekstra kurikuler

Join Yuuuk ,....

Upaya meningkatkan mutu pendidikan bagi anak perlu diseimbangkan antara kegiatan dalam kelas  dan  luar kelas. 
                                                                                                                                     Albayan Eskul :

1. Latihan PRAMUKA
Hari Sabtu  Jam 08.00 - 10.00 Infaq Minimal 5.000,- / anak  Setiap Latihan       Tahap Awal Diikuti Oleh Kelas 3,4, dan 5
2. Beladiri TAEKWON DO
of sementara
3. English Course 
Hari Sabtu dan Ahad Jam 16.00 - 17.00
of sementara
4. Bimbingan MATEMATIKA
Hari Selasa, Rabu,dan Kamis Jam 15.40 - 16.40     
5. Visit Seni Budaya
Sesuai Materi 
6. Out Bond
Sesuai Jadwal 
7. Aksi Sosial 
Sesuai Jadwal 


                                                                                       


7 Kalimat yang Tak Boleh Didengar Anak



KOMPAS.com — Berbagai masalah rumah tangga, pekerjaan, sampai kenakalan anak tak jarang membuat Anda lepas kontrol dan marah. Bahkan tak jarang, anak-anak menjadi sasaran kemarahan Anda, entah melalui sikap ataupun kata-kata kasar yang keluar dari mulut Anda. Hati-hati bila Anda sering kelepasan bicara seperti ini.
“Kata-kata bisa menjadi sumber inspirasi, tetapi juga bisa melukai perasaan,” ungkap Chick Moorman, penulis buku Parent Talk dan Spirit Whisperers.
Meskipun anak Anda menimbulkan banyak masalah, sebagai orangtua tak sepatutnya Anda melontarkan kata-kata yang menyakitkan bagi anak. Efek dari ucapan kasar tersebut sering kali lebih merugikan daripada yang Anda bayangkan. Contohnya seperti ini:
“Kalau nakal, Ibu akan meninggalkanmu di sini.” Anda mengancam dan menakuti anak-anak dengan harapan agar mereka patuh pada perintah Anda. Perlu Anda ketahui, ketakutan terbesar anak-anak kecil adalah tersesat sendirian dan merasa tidak aman. Oleh karena itu, tindakan Anda meninggalkannya sendirian akan menimbulkan trauma bagi dirinya.
Alih-alih mengancam dan menakuti anak, lebih baik katakan keinginan Anda dengan baik. Misalnya ketika anak merengek minta mainan, katakan saja padanya, “Arka, kalau kamu terus merengek seperti itu, kita akan pulang sekarang. Tapi kalau kamu tidak nakal, kita akan tetap di toko ini dan memilih belanjaan bersama.”
Alternatif lainnya adalah dengan beristirahat sejenak. Kenakalan anak dan kemarahan Anda mungkin saja merupakan tanda bahwa Anda atau anak butuh istirahat.
“Kamu seharusnya malu.” Banyak orangtua yang beranggapan bahwa dengan mengungkapkan hal tersebut, anak akan malu dan akan mengubah sikapnya sesuai dengan yang mereka inginkan. Namun, anak kecil belum dapat memahami rasa malu yang terjadi akibat kesalahan yang diperbuatnya. Oleh karena itu, hal ini belum tentu langsung berhasil. Jika terlalu sering mengatakan hal ini, maka mereka hanya akan berpikir bahwa segala sesuatu yang dilakukannya selalu salah.
“Seandainya kamu tidak pernah ada.” Kalimat ini punya makna: “Ayah dan ibu tidak pernah menginginkanmu.” Karenanya, kalimat ini tidak sepantasnya diucapkan oleh orangtua. Kalimat ini akan sangat menyakitkan, baik bagi si anak maupun orang lain yang mendengarnya. Terlepas dari kenakalan yang telah dilakukan anak, ia hadir karena kehendak Anda dan suami. Maka, bersikaplah sebagai orangtua yang bertanggung jawab dengan mengasuh dan mendidik anak dengan baik, bukannya menyalahkannya karena lahir di dunia.
“Kamu yang membuat Ibu bercerai.” Tidak ada anak yang menjadi penyebab orangtuanya bercerai. Ketika kalimat ini diucapkan, maka secara tak langsung Anda membuat anak-anak menanggung beban emosional seumur hidupnya. Bahkan ketika Anda menjelaskan dengan penuh kehati-hatian tentang perceraian, anak-anak akan merasa sangat bertanggung jawab atas keputusan Anda untuk bercerai. Anak akan beranggapan bahwa jika dia bersikap lebih baik, maka Anda tidak akan bercerai. Meski tak terucapkan oleh anak, masalah ini sering jadi masalah yang serius.
“Kenapa kamu tidak seperti saudaramu yang lain?” Dengan mengatakan hal ini, maka secara tidak langsung Anda membandingkan anak-anak dengan saudaranya yang lain bahwa anak tidak cukup pintar, cukup baik, ataupun cepat belajar dibanding saudaranya. Pembanding ini juga akan meningkatkan persaingan antarsaudara meningkat, yang kelak akan merusak hubungan persaudaraan dan mengembangkan keterpisahan. Terima setiap anak dalam keluarga Anda karena mereka memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri. Bantu anak untuk melihat keistimewaan mereka dengan berfokus pada masing-masing individu tanpa menggunakan perbandingan.
“Biar Ibu yang menyelesaikan.” Mungkin, maksud hati ingin membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah yang sulit dikerjakan. Namun, jika terlalu sering melakukan hal ini, maka Anda telah mengambil alih pekerjaan anak yang seharusnya bisa dikerjakannya sendiri. Hal ini justru malah akan melemahkannya. Mengambil alih pekerjaan anak mungkin bisa menghemat waktu Anda di masa sekarang, tetapi Anda meninggalkan beban di masa depan karena anak jadi tak terbiasa mandiri.
“Ibu bilang begitu, ikuti saja.” Kalimat ini memang terdengar seperti perintah keras bagi anak. Namun, arti yang terdalam dari kalimat ini adalah, “Saya orang dewasa, dan kamu anak-anak”, atau “Saya pintar, dan kamu bodoh”, atau “Saya berkuasa, dan kamu tidak”, atau “Saya yang mengatur, dan kamu yang harus mengerjakan.” Penegasan ini akan menciptakan jurang yang lebar antara Anda dan anak.
Gaya bicara seperti ini menimbulkan rasa kesal pada anak, bahkan mungkin rasa benci dan persaingan untuk berebut kekuasaan dalam rumah. Cobalah untuk menggunakan bahasa yang lebih baik untuk mengungkapkan ketidaksetujuan anak sehingga mereka lebih menghormati dan mengerti apa yang Anda rasakan.

Jangan Cuma Cerdas Duniawi



Sejak tahun 1905, Alfred Binet memperkenalkan definisi kecerdasan kepada dunia. Menurut ilmuwan berkebangsaan Perancis ini, orang yang cerdas adalah orang yang memiliki IQ (intelligence quotient) di atas rata-rata, yakni di atas angka 100 menurut ukuran yang dibuatnya. Sedang orang yang memiliki IQ di atas 150 disebut jenius.
Mulai saat itu, keberuntungan manusia seolah ditentukan oleh seberapa tinggi IQ-nya. Semakin tinggi, kemungkinan untuk berprestasi semakin besar.
Akibat anggapan tersebut, sekolah-sekolah elit hingga sekarang hanya menerima calon siswa yang memiliki IQ tinggi. Demikian juga sejumlah perguruan tinggi dan perusahaan-perusahaan besar, hanya menerima orang-orang yang bisa menunjukkan hasil tes IQ tinggi.
Rontok
Teori itu bertahan hingga 90 tahun, lalu mulai rontok setelah Daniel Goleman melakukan serangkaian riset yang mendalam dan berlangsung lama. Pakar psikologi ini mensemukan bahwa IQ bukan satu-satunya jenis kecerdasan yang menentukan sukses tidaknya seseorang. Ada kecerdasan lain yang justru lebih penting dari itu, yaitu emotional quotient (kecerdasan emosi).

Sejak itu orang mulai menyadari bahwa IQ semata tidaklah cukup. Kecerdasan intelektual tidak banyak membantu seseorang mengarungi kehidupan jika tidak dibarengi kecerdasan emosi. Bahkan, faktor kecerdasan emosi menyumbang sekitar 85 persen variabel keberhasilan.
Terlalu banyak contoh yang memperkuat pendapat Golemen. Betapa banyak anak-anak yang selalu mendapat peringkat tinggi dengan nilai akademik luar biasa pada usia sekolah, tapi setelah lulus gagal mengarungi kehidupan nyata.
Untuk seterusnya, paradigma pendidikan terus berubah. Metode pengajaran dan materi ajar pun dirombak. Jika sebelumnya pendidikan berorientasi pada hasil, maka selanjutnya orientasi pendidikan berubah pada proses.
Para guru dan pengurus sekolah boleh bangga ketika para muridnya mendapat nilia rata-rata 8 saat ujian nasional. Tapi, mereka akan jauh lebih bangga jika proses mendapatkan nilai tersebut dilakukan secara sportif, tidak menyontek, dan tidak mendapatkan bocoran jawaban dari oknum tertentu. Apalah artinya nilai rata-rata 10 jika dihasilkan dari cara-cara yang tidak jujur.
Nasehat Lukman al-Hakim
Seiring ditemukannya teori multiple intelligence (kecerdasan mejemuk) oleh Howard Gardner, psikolog dari Harvard University, definisi kecerdasan kian meluas. Teori mutakhir ini menggabungkan delapan dimensi kecerdasan, yaitu linguistik, matematis logis, spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan natural.

Sejak teori itu muncul, tidak ada lagi monopoli kecerdasan. Banyak stigma lama yang akhirnya berubah. Motto-motto baru yang lebih manusiawi mulai bermunculan. Misalnya, “semua anak cerdas”, “tidak ada anak yang bodoh, yang ada guru yang tidak bisa mengajar”, “semua anak yang terlahir adalah sang juara.”
Sesungguhnya, jauh sebelum Binet, Goleman, dan Gardner, menemukan teori kecerdasan, mulai dari IQ, EQ, SQ, hingga multiple intelligence, para tokoh Muslim telah mendefinisikan kecerdasan secara lebih lengkap, komprehensif, dan holistik.

Sayang, kita malah berkiblat kepada teori kecerdasan yang dikembangkan dunia Barat. Entah karena kita malas mencari mutiara tersebut dalam deretan rak perpustakaan lama yang melimpah, atau karena kita merasa minder.
Bahkan, lebih jauh ke belakang, al-Qur`an dan Sunnah telah mengenalkan kepada kita nilai kecerdasan yang sejati, yakni kecerdasan berdasarkan fitrah.
Al-Qur’an telah memuat profil tokoh pendidik yang luar biasa. Ia bukanlah seorang nabi dan rasul, tapi namanya diabadikan menjadi sebuah nama surat dalam al-Qur`an, bahkan petuahnya dinukil di dalam al-Qur`an.
Ia adalah Luqman al-Hakim. Ia berkata kepada anaknya tentang kecerdasan, sebagaimana dinukil dari buku berjudul Pesan-pesan Bijak Lukman al-Hakim karya Majdi Asy Syahari. Beginilah katanya,”Wahai anakku, orang yang cerdas, pandai, dan bahagia pasti mencintai sesamanya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ia bersikap hemat dalam keadaan kaya dan menjaga kehormatan diri di saat fakir. Harta tidak akan melalaikannya dari Allah. Kemiskinan juga tidak mungkin menyibukkannya dari mengingat Allah.”
“Wahai anakku, orang yang cerdas itu akan bisa mengambil manfaat dari kesabarannya. Ia selalu mendengarkan siapa saja yang menasehatinya. Ia tidak memusuhi orang yang lebih tinggi derajatnya dan tidak pula melecehkan orang yang lebih rendah derajatnya.”
”Ia tidak menuntut apa yang bukan miliknya dan tidak menyia-nyiakan apa yang ia miliki. Ia tidak mengucapkan apa yang tidak diketahuinya dan tidak menyembunyikan ilmu yang ada padanya.”
“Wahai anakku, orang yang cerdas itu merasa puas dengan hak yang dimilikinya dan tidak pernah merugikan hak-hak orang lain. Orang lain tidak merasa terusik olehnya dan dia pun tidak merasa terbebani oleh orang lain.
“Wahai anakku, orang yang cerdas itu mau menerima nasehat dari orang yang menasehatinya. Ia bergegas dalam hal kebajikan dan lamban dalam hal keburukan. Ia kuat dalam berbuat baik dan lemah dalam kemaksiatan. Ia memiliki sedikit pengetahuan tentang nafsu syahwat.”
”Ia mengatahui cara mendekatkan diri kepada Allah. Ia meyakinkan pada saat bersaksi, bersikap adil di saat memutuskan, benar jika berkata, jujur jika diberi kepercayaan, dan pemaaf jika dizalimi.”
“Wahai anakku, orang yang cerdas itu tetap berbuat baik di saat orang berbuat jahat kepadanya. Ia menggunakan hartanya untuk kebaikan dan tidak menafkahkan harta yang bukan miliknya.”
”Di dunia, ia ibarat perantau. Tujuannya adalah kehidupan kelak. Ia selalu mengajak pada kebaikan dan mengajarkannya. Ia mencegah kejahatan dan menjauhinya. Batinnya sesuai dengan lahirnya. Ucapannya selaras dengan perbuatannya.”
Definisi Kecerdasan
Nasehat Luqman al-Hakim kepada anaknya tentang kecerdasan itu bisa diringkas menjadi sebuah definisi tentang orang yang cerdas, yakni orang yang memiliki sifat kasih sayang, efisien, efektif (berdaya guna/bermanfaat), menjaga kehormatan, konsisten, sabar, empati (peduli), jujur, apresiatif, berilmu pengetahuan, berketerampilan, adil, benar, komitmen, proaktif, tangguh, amanah, visioner, dan menjadi pelopor kebaikan.

Bayangkan, jika anak kita, atau kita sendiri, telah memenuhi syarat kecerdasan sebagaimana dikemukakan Luqman al-Hakim, akankah anak kita, atau kita, mengalami kegagalan? Tidak! Insya Allah kita akan selamat, sukses, bahagia, bahkan dapat hidup dalam kemuliaan selama-lamanya.
Sekarang coba bandingkan nilai kecerdasan yang dikemukakan oleh Luqman al-Hakim dengan teori kecerdasan yang dikemukakan para tokoh sekuler di atas. Satu hal yang pasti, teori sekuler tak pernah menyentuh dimensi transendental (ukhrawi).
Kalaupun berbicara tentang spiritualitas, nilainya sangat dangkal dan terlalu rasional. Padahal dimensi ini tak bisa disentuh dengan sekadar ilmu pengetahuan dan rasio semata. Di sinilah diperlukan petunjuk wahyu.
Dalam kaitan ini, maka definisi kecerdasan yang dikemukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan definisi yang paling akurat, paling benar, dan paling komprehensif.

Dalam sebuah Hadits beliau bersabda tentang kecerdasan, “Orang yang cerdas adalah orang yang menguasai dirinya dan berbuat untuk keselamatan sesudah mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan mengharapkan kepada Allah harapan-harapan kosong,” (Riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Umar).
Al-Ghazali mengelaborasi lebih lanjut konsep kecerdasan ini. Ia berkata, “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu memahami Tuhannya, memahami dirinya, memahami dunianya, dan memahami akheratnya.”
Orang yang bisa memiliki empat kemampuan tersebut dijamin sukses dan bahagia di dunia dan akhirat.
Wallahu a’lamu bish shawab.***SUARA HIDAYATULLAH, JULI 2011


Rabu, 16 November 2011

IBU, JANGAN MARAHIN AKU, DONG!


Menegur anak ada seninya. Salah menegur bisa membuatnya tak percaya diri, tak punya inisiatif, dan tak berani tampil.
Di usia prasekolah, anak sudah bersosialisasi dengan orang luar. Ini berarti, ia punya pilihan antara dunianya sendiri dengan dunia luar. Di satu pihak, ia mulai mengembangkan kemandiriannya seperti, "Ini punyaku!" atau "Saya maunya ini!" Tetapi di lain pihak, ia pun harus mulai belajar tentang aturan-aturan dasar perilaku yang diterapkan lingkungannya. Akibatnya, seringkali sikapnya bertolak belakang dengan apa yang diharapkan orang tua. Nah, teguran datang karena orang tua melihat ada perilaku anak yang tak disukai dan orang tua ingin menghentikannya.
Namun, menegur anak usia prasekolah harus dilakukan secara hati-hati. Mengapa? Karena kecerdasan mereka sudah meningkat. Mereka sudah belajar sebab-akibat, sehingga bila mereka ditegur tanpa tahu penyebab dan apa akibatnya, teguran hanya membuat mereka bingung.
Bukan cuma itu, bila cara kita salah dalam menegur, anak bisa kehilangan kepercayaan diri, tak berinisiatif dan minder. Pasalnya, bila anak sering ditegur berarti dia banyak dicela. Dampaknya, anak jadi memiliki konsep diri negatif sehingga membuatnya tak percaya diri, takut salah dan tak berani tampil. Karena takut salah, otomatis kebutuhan anak untuk menjelajah, berinisiatif dan memupuk rasa ingin tahu jadi terhambat. Anak jadi tak punya inisiatif dan tak punya pendirian.
Belum lagi jika teguran yang diterima bersifat inkonsisten, artinya tak ada kesesuaian antara standar yang diterapkan ayah dengan standar ibu. Akibatnya, anak merasa kebingungan, standar apa yang hendak diterapkanya. Alih-alih, si anak malah bersikap cuek dan makin lama ia tak peduli dengan teguran yang diterimanya. Jadi sedikit demi sedikit, ia tak punya lagi standar perilaku dalam kehidupannya.
Selain itu, bila anak selalu ditegur dengan nada tinggi, lama- kelamaan akan timbul kemarahan dalam dirinya yang membuatnya merasa menjadi pribadi yang sia-sia.
Itulah mengapa, orang tua harus hati-hati kala menegur si prasekolah. Berikut ada 8 hal yang harus diperhatikan orang tua saat menegur anak.
1. JAGA NADA BICARA
Hindari nada tinggi, menghardik, menjerit, memaki atau merendahkan pada saat menegur. Gunakan bahasa yang lemah lembut tapi tegas. Contoh, si kecil tetap asyik nonton TV sementara kita sudah memintanya beranjak ke ruang makan. Katakan, "Kak, Ibu bilang ini waktunya makan. Ayah sudah duduk di meja. Ibu juga. Kalau kakak enggak berhenti juga, berarti semua enggak makan."
Dengan cara ini, kita pun mengajarkan konsekuensi logis pada anak. Misal, karena sudah disepakati, bila makan malam semua berkumpul di meja makan untuk makan, maka tidak hadirnya satu orang anggota keluarga saja, dapat menyebabkan orang lain tak makan. Kita dapat memberikan penjelasan konsekuensi tambahan bila seluruh anggota keluarga menunda makan hanya karena si kecil memilih lebih asyik nonton TV.
2. TEGURLAH PERBUATANNYA
Ketika menegur anak, bersikaplah objektif dengan menyebut kesalahannya. Artinya, jangan hanya menegur, "Kakak malas, ya!" tanpa menyebutkan apa kesalahannya.
Anak harus diberi tahu tindakannya salah, sehingga anak tahu bahwa perilakunya merupakan kesalahan. Bila si kakak selalu malas mengembalikan mainannya ke kotak mainan, misal, katakan, "Kak, coba lihat, kalau mainannya tidak dibereskan, jadi berantakan, bukan? Nanti kalau ada yang terinjak, malah jadi rusak, lo. Ayo, kita bereskan."
Hindari sikap menyamakan setiap tingkah anak, seperti ucapan "kamu selalu bikin marah" atau "sering" tanpa menyebut tindakan apa yang salah.
Mendengar kata-kata ini, anak malah akan menganggap segala perilakunya tak ada yang benar. Bukannya berusaha berbuat baik, sebaliknya anak justru terdorong untuk bertingkah salah terus. "Buat apa bertingkah baik, paling aku tetap disalahkan," begitu pikir anak.
Jangan bosan meminta anak melakukannya lagi bila esok ia "lupa" melakukannya. Yang penting "teguran" itu dilakukan dengan lemah lembut dan disertai contoh.
3. JANGAN DITUNDA
Tegurlah segera saat melihat anak melakukan kesalahan. Jangan menunggu kejadian itu kedaluwarsa. Misal, anak melakukan kesalahan dua hari lalu, tapi baru sekarang ia ditegur. Hal ini kurang efektif karena anak mungkin sudah lupa kesalahan yang dilakukannya. Lebih efektif bila anak ditegur langsung saat ia melakukan kesalahan.
4. JANGAN DI DEPAN ORANG LAIN
Ada beberapa orang tua yang menunda memberi teguran anak di hadapan orang lain karena khawatir dapat menimbulkan rasa malu dan memukul harga diri anak. Ini tindakan yang bijak karena anak usia prasekolah memang sudah memiliki kesadaran yang menyangkut harga diri. Anak minta dihargai dengan cara tak dipermalukan di depan orang lain. Lebih baik, lakukan teguran setelah sampai di rumah.
Seandainya kita terpaksa melakukannya, sampaikan teguran dengan lemah lembut. Jangan bandingkan dengan anak lain yang mungkin ada di sekitar situ. Umpama, anak memainkan minumannya ketika diajak bertamu ke rumah saudara. Katakan dengan lembut tapi tegas, "Kak, minuman itu diminum saja, ya. Jangan dibuat mainan. Tante, kan, sudah membuatkannya untuk kita. Ayo, kita minum."
5. KONSISTEN
Kalau suatu saat kita menetapkan aturan, "Kamu enggak boleh nonton TV kalau belum mandi", hendaknya penegasan tersebut harus berlaku dalam kondisi apa pun. Artinya, saat kita melihat si anak nonton TV padahal belum mandi, kita harus segera menegurnya. Jangan misalnya hari ini kita mendiamkannya, tapi pada kesempatan lain ia melakukannya, kita langsung menegur. Hal ini akan membuat anak bingung tentang standar perilaku yang dibuat bersama.
Begitupun, ayah dan ibu harus konsisten menerapkan satu peraturan yang sama. Jangan ibu melarang, tapi ayah membolehkan. Hal ini membuat anak bingung. Anak juga cenderung "mengadudomba" ayah dan ibu. Kalau dilarang ibu, dia akan lari ke ayah karena merasa ada yang membelanya. Atau sebaliknya, lari ke ibu saat dilarang oleh ayah. Akibatnya, hubungan ayah dan ibu juga terganggu lantaran ketidakkonsistenan ini.
6. JANGAN BERLEBIHAN
Teguran yang berlebihan hanya akan membuat anak merasa selalu disalahkan, sementara ia sama sekali tak mendapatkan pelajaran apa pun dari kesalahan yang sudah dilakukannya. Bukan cuma itu, anak juga akan merasa diperlakukan tidak adil sehingga memupuk keinginan untuk memberontak. Dalam bahasa lain, tujuan akan adanya perubahan perilaku yang diharapkan dengan pemberian teguran malah tak tercapai.
Contoh, kita menegurnya karena main game saat hari "sekolah" lalu kita menegurnya juga ketika dia main game di hari minggu yang notabene hari libur. Lebih baik, buat kesepakatan terlebih dulu, kapan boleh main game, ketimbang Anda bolak-balik menegurnya.
7. JANGAN DISERTAI ANCAMAN
Saat memberi teguran, orang tua jangan menyertainya dengan ancaman, semisal, "Kalau kamu masih nonton TV, Bunda enggak mau nemenin kamu lagi tidur di kamar." Bisa dibayangkan, ancaman penolakan ini akan membuat anak merasa kehilangan kasih sayang orang terdekatnya. Untuk selanjutnya, ia mungkin jadi anak yang tak percaya diri lagi.
Meski demikian, pada saat menegur, bila perlu, kita boleh memberikan sanksi. Anak juga harus belajar, bila teguran tak diindahkan, ia akan menerima konsekuensinya. Contoh, "Kalau mainanmu tercecer di mana-mana, nanti bisa hilang. Kalau terus hilang, lebih baik Bunda tak membelikan mainan lagi." Jadi, bila benar mainannya ada yang hilang tercecer, tunda dulu membeli mainan baru, sehingga anak bisa merasakan, "Oh iya, mainanku nggak dirapiin, jadi hilang. Sekarang aku nggak dapat mainan baru, deh."
8. JANGAN LUPA MEMBERI REWARD
Jangan cuma memberi teguran, tapi lupa memberi pujian. Karena teguran dan hadiah merupakan modal dasar agar anak punya disiplin dan kemandirian individu.
Reward ini tak selalu harus berupa pelukan atau hadiah, tapi bisa juga berupa pujian. Bila anak malas mengembalikan mainannya, kita boleh menegur. Tetapi kalau kita lihat ia dengan sigap selesai mengembalikan mainannya, jangan lupa menyelipkan pujian. "Waduh, Kakak pintar, deh, mainannya sudah dibereskan. Tuh, rapi, kan. Asyik, besok kalau mau main lagi, enggak perlu cari-cari di kolong lemari."
Atensi sekecil apa pun merupakan reward. Atensi yang diterima dari lingkungan menjadikan anak sebagai pribadi yang periang, mampu berempati dan kreatif. Sebaliknya, anak yang tak pernah/jarang menerima penghargaan dari lingkungannya, umumnya kelak menjadi pribadi yang memprihatinkan. Ia menjadi seorang yang kesepian dan hopeless karena hidupnya tak memberi makna pada diri sendiri maupun orang lain.
Santi Hartono

Senin, 14 November 2011

Al-Bayan at present

Halaman Sekolah 

Menengok hasil Karya

Kelas IVb berfose depan MADING 

Layanan Antar Jemput Siswa 

Kantor Administrasi Sekolah

Ruang TU dan Donatur 

Kantor Yayasan Al - Bayan

Masjid Umar Alfaruq 

Ruang Kelas 

Keamanan 

Kantin Sekolah 

Tempat Barang Titipan & Kran Barokah  

Ruang  Guru

Smart Corner

Halaman depan kelas

Ilmu, Simbol Kejayaan Umat


Yuuk Nuntut Ilmu

Ilmu, telah menjadi perbincangan dari waktu ke waktu, bahkan ilmu telah menjadi simbol kemajuan dan kejayaan suatu bangsa. Hampir tak ada suatu bangsa dinilai maju kecuali di sana ada ketinggian ilmu. Hingga hampir menjadi kesepakatan setiap jawara bangsa, bila ingin maju harus berkiblat kepada negeri yang tinggi ilmunya. Jadilah bangku-bangku sekolah didoktrin dengan kurikulum negara maju. Akan tetapi sayang seribu kali sayang, sikap ambisi meraup dan mengimport ilmu ini berlaku hanya pada masalah duniawi. Bahkan pikiran sebagian besar kaum muslimin pun tak jauh berbeda dengan kaum sekulernya. Yang lebih memprihatinkan lagi, sebagian da’i yang mempertengkarkan tentang cap intelektual muslim pun justru menuding kolot terhadap orang yang tekun mempelajari agamanya karena terfitnah oleh kilauan dunia. Bukankah kita pernah mendengar wasiat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu :
اِرْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتِ اْلآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُوْنٌ، فَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاءِ اْلآخِرَةِ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاِء الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابٌ وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلٌ.
Dunia akan pergi berlalu, dan akhirat akan datang menjelang, dan keduanya mempunyai anak-anak. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya pada hari ini hanya ada amal tanpa hisab (perhitungan), dan besok hanya ada hisab (perhitungan) tanpa amal.” (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq).
Akankah kita membekali diri kita bagaikan si buta di tengah rimba belantara tak tahu apa yang akan menimpanya. Padahal bahaya itu sebuah kepastian yang telah tersedia.
Akankah kita bergelimang dalam kebodohan, padahal kebodohan adalah lambang kejumudan. Lalu, tidakkah kita ingin sukses dan jaya di negeri akhirat nanti. Lalu apa yang menghalangi kita untuk segera meraup ilmu dien (agama), sebagaimana kita berambisi meraup ketinggian ilmu dunia karena tergambar suksesnya masa depan kita?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengumpulkan keutamaan ilmu ini dalam 13 point:
1. Bahwa ilmu dien adalah warisan para nabi Shallallaahu alaihi wa Salam, warisan yang lebih mulia dan berharga dari segala warisannya para nabi. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda:
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى النُّجُوْمِ. اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، وَاْلأَنْبِيَاءُ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَاًرا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ. (الترمذي).
“Keutamaan sesorang ‘alim (berilmu) atas seorang ‘abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya (warisan ilmu) maka dia telah mengambil keuntungan yang banyak.” (HR. Tirmidzi).
2. Ilmu itu tetap akan kekal sekalipun pemiliknya telah mati, tetapi harta yang jadi rebutan manusia itu pasti akan sirna. Setiap kita pasti kenal Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, gudangnya periwayatan hadits, sehingga beliau menjadi sasaran bidik kejahatan kaum Syi’ah dengan tuduhan-tuduhan keji yang dilancarkannya terhadap diri beliau, dalam rangka menghancurkan Islam dan kaum muslimin.
Dari segi harta Abu Hurairah Radhiallaahu anhu memang termasuk golongan fuqara’ (kaum papa), memang hartanya telah sirna, tapi ilmunya tak pernah sirna, kita semua masih tetap membacanya. Inilah buah seperti yang tersebut dalam hadits Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam :
إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ؛ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ.
“Jika manusia mati terputuslah amalnya kecuali tiga: shadaqah jariyah, atau ilmu yang dia amalkan atau anak shalih yang mendoakannya.”
3. Ilmu, sebanyak apapun tak menyusahkan pemiliknya untuk menyimpan, tak perlu gedung yang tinggi dan besar untuk meletakkannya. Cukup disimpan dalam dada dan kepalanya, bahkan ilmu itu yang akan menjaga pemiliknya sehingga memberi rasa nyaman dan aman, lain halnya dengan harta yang semakin bertumpuk, semakin susah pula untuk mencari tempat menyimpannya, belum lagi harus menjaganya dengan susah payah bahkan bisa menggelisahkan pemiliknya.
4. Ilmu, bisa menghantarkan pemiliknya menjadi saksi atas kebenaran dan keesaan Allah. Adakah yang lebih tinggi dari tingkatan ini? Inilah firman Allah Ta’ala:
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran: 18).
Sedang pemilik harta? Harta sama sekali takkan menghantarkan pemiliknya sampai ke derajat sana.
5. Para ulama (Ahli ilmu syari’at), termasuk golongan petinggi kehidupan yang Allah perintahkan supaya orang mentaatinya, tentunya selama tidak menganjurkan durhaka kepada Allah dan RasulNya, sebagaimana firmanNya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu.” (An-Nisa: 59).
Ulil Amri, menurut ulama adalah Umara’ dan Hukama’ (Ahli Hikmah/Ahli Ilmu/Ulama). Ulama berfungsi menjelaskan dengan gamblang syariat Allah dan mengajak manusia ke jalan Allah. Umara’ berfungsi mengoperasionalkan jalannya syariat Allah dan mengharuskan manusia untuk menegakkannya.
6. Para ulama, mereka itulah yang tetap tegar dalam mewujudkan syariat Allah hingga datangnya hari kiamat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللهُ هُوَ الْمُعْطِيْ وَلاَ تَزَالُ هَذِهِ اْلأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ.
“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah akan fahamkan dia dalam (masalah) dien. Aku adalah Al-Qasim (yang membagi) sedang Allah Azza wa Jalla adalah yang Maha Memberi. Umat ini akan senantiasa tegak di atas perkara Allah, tidak akan memadharatkan kepada mereka, orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang putusan Allah.” (HR. Al-Bukhari).
Imam Ahmad mengatakan tentang kelompok ini: “Jika mereka bukan Ahlu Hadits maka aku tidak tahu siapa mereka itu”.
7. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menggambarkan para pemilik ilmu dengan lembah yang bisa menampung air yang bermanfaat terhadap alam sekitar, beliau bersabda, yang artinya:
Perumpamaan dari petunjuk ilmu yang aku diutus dengannya bagaikan hujan yang menimpa tanah, sebagian di antaranya ada yang baik (subur) yang mampu menampung air dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak, di antaranya lagi ada sebagian tanah keras yang (mampu) menahan air yang dengannya Allah memberikan manfaat kepada manusia untuk minuman, mengairi tanaman dan bercocok tanam. Dan sebagian menimpa tanah tandus kering yang gersang, tidak bisa menahan air yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Maka demikianlah permisalan orang yang memahami (pandai) dalam dien Allah dan memanfaatkan apa yang dengannya aku diutus Allah, maka dia mempelajari dan mengajarkan. Sedangkan permisalan bagi orang yang tidak (tidak memperhatikan ilmu) itu (sangat berpaling dan bodoh), dia tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
8. Ilmu adalah jalan menuju Surga, tiada jalan pintas menuju Surga kecuali ilmu. Sabdanya:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ.
Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga.” (HR. Muslim).
9. Ilmu merupakan pertanda kebaikan seorang hamba. Tidaklah akan menjadi baik melainkan orang yang berilmu, sekalipun bukan jaminan mutlak orang yang (mengaku) berilmu mesti baik.
Sabda beliau Shallallaahu alaihi wa Salam :
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ.
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan, Allah akan pahamkan dia (masalah) dien.” (Al-Bukhari).
10. Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan hamba sehingga dia tahu bagaimana beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan para hamba Allah.
11. Orang ‘alim (berilmu) adalah cahaya bagi manusia lainnya. Dengan dirinyalah manusia dapat tertunjuki jalan hidupnya. Jamaah sekalian tentunya ingat kisah seorang pembunuh yang menghabisi 100 nyawa. Dia bunuh seorang ahli ibadah sebagai korban yang ke-100 karena jawaban bodoh dari si ahli ibadah yang menjawab bahwa sudah tak ada lagi pintu taubat bagi pembunuh nyawa manusia. Akhirnya dia datang kepada seorang ‘alim, dan disana ia ditunjukkan jalan taubat, maka diapun mendapatkan penerangan bagi jalan hidupnya.
12. Allah akan mengangkat derajat Ahli Ilmu (orang alim) di dunia dan akhirat. Di dunia Allah angkat derajatnya di tengah-tengah umat manusia sesuai dengan tingkat amal yang dia tegakkan. Dan di akhirat akan Allah angkat derajat mereka di Surga sesuai dengan derajat ilmu yang telah diamalkan dan didakwahkannya.
Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam surat Mujadilah: 11 telah berfirman:
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Itulah point-point penting yang bisa kita nukilkan, semoga menjadi pendorong semangat bagi orang yang bercita-cita mulia dunia dan akhiratnya.