Kamis, 04 Juni 2015
Senin, 18 Mei 2015
Jangan Remehkan Dakwah Kepada Anak
OLEH: MOHAMMAD FAUZIL ADHIM
Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau gembleng mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.
Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.
Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa pun yang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30 40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.
Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?
Maka..., ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.
Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.
Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.
Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.
Ingatlah hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” (HR. Bukhari).
Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yang engkau emban saat ini.
Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta'ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.
Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar. Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu. Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau-kalau ada yang menyimpang dari tuntunan-Nya. Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.
Wahai Para Guru, sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yang paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yang mungkin akan terjadi. Ada yang lebih perlu engkau tangisi dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.
Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan. Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan. Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya. Tanamkan adab dalam diri mereka. Tumbuhkan pula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah. Bukan menyibukkan mereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.
Ini juga berlaku bagi kita.
Ingatlah do’a yang kita panjatkan:
"اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ"
“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”
Inilah do’a yang sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita. Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yang keliru. Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya. Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh persepsi sendiri.
Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.
***
Jangan sepelekan dakwah terhadap anak! Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan. Tetapi kita akan menuai akibatnya ketika mereka dewasa. Betapa banyak yang keliru menilai. Masa kanak-kanak kita biarkan direnggut TV dan tontonan karena menganggap mendidik anak yang lebih besar dan lebih-lebih orang dewasa, jauh lebih sulit dibanding mendidik anak kecil. Padahal sulitnya melunakkan hati orang dewasa justru bersebab terabaikannya dakwah kepada mereka di saat belia.
Wallahu a’lam bish-shawab. Kepada Allah Ta’ala kita memohon pertolongan. Maafkan saya.
Jangan Remehkan Dakwah Kepada Anak
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau gembleng mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.
Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.
Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa pun yang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30 40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.
Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?
Maka..., ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.
Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.
Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.
Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.
Ingatlah hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” (HR. Bukhari).
Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yang engkau emban saat ini.
Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta'ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.
Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar. Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu. Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau-kalau ada yang menyimpang dari tuntunan-Nya. Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.
Wahai Para Guru, sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yang paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yang mungkin akan terjadi. Ada yang lebih perlu engkau tangisi dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.
Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan. Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan. Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya. Tanamkan adab dalam diri mereka. Tumbuhkan pula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah. Bukan menyibukkan mereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.
Ini juga berlaku bagi kita.
Ingatlah do’a yang kita panjatkan:
"اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ"
“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”
Inilah do’a yang sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita. Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yang keliru. Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya. Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh persepsi sendiri.
Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.
***
Jangan sepelekan dakwah terhadap anak! Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan. Tetapi kita akan menuai akibatnya ketika mereka dewasa. Betapa banyak yang keliru menilai. Masa kanak-kanak kita biarkan direnggut TV dan tontonan karena menganggap mendidik anak yang lebih besar dan lebih-lebih orang dewasa, jauh lebih sulit dibanding mendidik anak kecil. Padahal sulitnya melunakkan hati orang dewasa justru bersebab terabaikannya dakwah kepada mereka di saat belia.
Wallahu a’lam bish-shawab. Kepada Allah Ta’ala kita memohon pertolongan. Maafkan saya.
Senin, 13 April 2015
Sabtu, 14 Februari 2015
Anak Shalih Adalah Aset Orang Tua
Anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat
disayangi dan dicintainya.
Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali
diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah
berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki serta
kearah mana anak tersebut akan dibawa.
Menurut Sunnah
melahirkan anak yang banyak justru yang terbaik. Rasulullah Shallallaahu
alaihi wa Salam bersabda:
تَزَوَّجُوا الْوَلُوْدَ
وَالْوَدُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمْ.
Artinya: “Nikahilah wanita yang penuh dengan
kasih sayang dan karena sesungguhnya aku bangga pada kalian dihari kiamat karena
jumlah kalian yang banyak.” (HR. Abu Daud dan An
Nasa’I, kata Al Haitsamin).
Namun yang menjadi masalah adalah kemana anak
akan kita arahkan setelah mereka terlahir. Umumnya orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi
anak yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa kedua orang
tuanya. Namun obsesi orang tua kadang tidak sejalan
dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan
salah satu faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter
anak. Obsesi tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan.
Bahkan sebagian orang tua akibat pandangan
yang keliru menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi bintang film
(Artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka
beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti
kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik itu semua mereka
kering akan informasi tentang perihal kehidupan kaum
selebritis yang mereka puja-puja. Hal ini terjadi akibat orang tua yang sering
mengkonsumsi berbagai macam acara-acara hiburan diberbagai media cetak dan
elektronik, karena itu opininya terbangun atas apa yang
mereka lihat selama ini.
Kehidupan sebagian besar selebritis yang banyak dipuja orang
itu tidak lebih seperti kehidupan binatang yang tak tahu tujuan hidupnya selain
hanya makan dan mengumbar nafsu birahinya. Hura-hura, pergaulan bebas, miras, narkoba dan
gaya hidup yang serba glamour adalah
konsumsi sehari-hari mereka. Sangat jarang kita saksikan di antara mereka ada
yang perduli dengan tujuan hakiki mereka diciptakan oleh Allah Subhannahu wa
Ta'ala , kalaupun ada mereka hanya menjadikan
ritualisme sebagai alat untuk meraih tujuan duniawi, untuk mengecoh masyarakat
tentang keadaan mereka yang sebenarnya. Apakah kita
menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang jauh dari agamanya yang
kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat? Tentu tidak.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang
yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan)mereka” (An Nisa: 9).
Pengertian lemah dalam ayat
ini adalah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual dan lemah
ekonomi. Oleh
karena itu selaku orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka
mereka harus memperhatikan keempat hal ini. Pengabaian
salah satu dari empat hal ini adalah ketimpangan yang dapat menyebabkan ketidak
seimbangan pada anak.
Imam Ibnu Katsir dalam
mengomentari pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada masalah
ekonomi. Beliau mengatakan selaku
orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan anak-anak mereka dalam keadaan
miskin . (Tafsir Ibnu Katsir: I, hal 432) Dan terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan
aqidahnya (murtad) di era ini akibat keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis
kemiskinan.
Banyak orang tua yang
mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata
dan mengabaikan perkembangan iman.
Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun yang penting
kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi, sementara untuk memasukkan
anak-anak mereka pada TK-TP Al-Qur’an terasa begitu enggan. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar
bagi anak.
Karena itu sebagian orang tua yang bijaksana, mesti mampu
memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan
obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. Di bawah ini akan kami ketengahkan beberapa langkah yang cukup
representatif dan membantu mewujudkan obsesi tersebut:
1. Opini atau persepsi orang tua atau anak
yang shalih tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam berdasarkan
Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam
, bersabda:
إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ
اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ
يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.
Artinya: “Jika wafat anak cucu Adam, maka
terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang
bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim)
Dalam hadits ini sangat
jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua
orang tuanya. Sementara kita telah
sama mengetahui bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak sedari
kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan,melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala ,
dan menjauhi larangan-laranganNya.
Anak yang shalih adalah anak yang tumbuh
dalam naungan DienNya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya
jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala dan senang bermaksiat kepadaNya. Anak yang senang
bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , jelas
akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat
kepada kedua orang tuanya sekaligus.
Dalam hadits ini dijelaskan tentang
keuntungan memiliki anak yang shalih yaitu, amalan-amalan mereka senantiasa
berkorelasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang tua telah wafat. Jika
sang anak melakukan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari
kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan doanya akan segera terkabul
oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala .
Jadi jelaslah bagi
kita akan gambaran anak yang shalih yaitu anak yang taat kepada Allah Subhannahu
wa Ta'ala , menjauhi larangan-laranganNya, selalu
mendoakan orang tuanya dan selalu melaksanakan
kebaikan-kebaikan.
2. Menciptakan lingkungan yang kondusif ke
arah tercipta-nya anak yang shalih.
Lingkungan merupakan
tempat di mana manusia melaksana-kan aktifitas-aktifitasnya. Secara mikro
lingkungan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
a. Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan
sebuah institusi kecil dimana anak mengawali masa-masa pertumbuhannya. Keluarga
juga merupakan madrasah bagi sang anak. Pendidikan yang
didapatkan merupakan pondasi baginya dalam pembangunan watak, kepribadian dan
karakternya.
Jika anak
dalam keluarga senantiasa terdidik dalam warna keIslaman, maka kepribadiannya
akan terbentuk dengan warna keIslaman tersebut. Namun
sebaliknya jika anak tumbuh dalam suasana yang jauh dari nilai-nilai keIslaman,
maka jelas kelak dia akan tumbuh menjadi anak yang
tidak bermoral.
Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian
orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ
عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ
يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخاري).
Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam
keadaan yang fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi
Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari)
Untuk itu orang tua harus
dapat memanfaatkan saat-saat awal dimana anak kita mengalami pertumbuhannya
dengan cara menanamkan dalam jiwa anak kita kecintaan terhadap diennya, cinta
terhadap ajaran Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya Shallallaahu alaihi wa
Salam, sehingga ketika anak tersebut berhadapan dengan lingkungan lain anak
tersebut memiliki daya resistensi yang dapat menangkal setiap saat pengaruh
negatif yang akan merusak dirinya.
Agar dapat memudahkan jalan
bagi pembentukan kepribadian bagi anak yang shalih, maka keteladanan orang tua
merupakan faktor yang sangat menentukan. Oleh karena itu, selaku orang tua yang bijaksana
dalam berinteraksi dengan anak pasti memperlihatkan sikap yang baik, yaitu sikap
yang sesuai dengan kepribadian yang shalih sehingga anak dapat dengan mudah
meniru dan mempraktekkan sifat-sifat orang tuanya
b. Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan lingkungan
di mana anak-anak berkumpul bersama teman-temannya yang sebaya dengannya. Belajar, bermain dan bercanda adalah kegiatan rutin mereka di
sekolah. Sekolah juga merupakan sarana yang cukup
efektif dalam membentuk watak dan karakter anak. Di sekolah anak-anak
akan saling mempengaruhi sesuai dengan watak dan
karakter yang diperolehnya dalam keluarga mereka masing-masing. Anak yang
terdidik secara baik di rumah tentu akan memberi
pengaruh yang positif terhadap teman-temanya. Sebaliknya anak yang di rumahnya
kurang mendapat pendidikan yang baik tentu akan memberi
pengaruh yang negatif menurut karakter dan watak sang
anak.
Faktor yang juga cukup
menentukan dalam membentuk watak dan karakter anak di sekolah adalah konsep yang
diterapkan sekolah tersebut dalam mendidik dan mengarahkan setiap anak
didik.
Sekolah yang ditata dengan managemen yang
baik tentu akan lebih mampu memberikan hasil yang
memuaskan dibandingkan dengan sekolah yang tidak memperhatikan sistem managemen.
Sekolah yang sekedar dibangun untuk kepentingan bisnis semata pasti tidak akan mampu menghasilkan murid-murid yang berkwalitas secara
maksimal, kualitas dalam pengertian intelektual dan moral
keagamaan.
Kualitas intelektual dan
moral keagamaan tenaga pengajar serta kurikulum yang dipakai di sekolah termasuk
faktor yang sangat menentukan dalam melahirkan murid yang berkualitas secara
intelektual dan moral keagamaan.
Oleh sebab itu orang tua
seharusnya mampu melihat secara cermat dan jeli sekolah yang pantas bagi
anak-anak mereka. Orang tua tidak
harus memasukkan anak mereka di sekolah-sekolah favorit semata dalam hal
intelektual dan mengabaikan faktor perkembangan akhlaq bagi sang anak, karena
sekolah tersebut akan memberi warna baru bagi setiap
anak didiknya.
Keseimbangan pelajaran yang diperoleh murid di sekolah akan lebih mampu menyeimbangkan keadaan mental dan
intelektualnya. Karena itu sekolah yang memiliki keseimbangan kurikulum antara
pelajaran umum dan agama akan lebih mampu memberi
jaminan bagi seorang anak didik.
c. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat adalah komunitas
yang terbesar dibandingkan dengan lingkungan yang kita sebutkan sebelumnya.
Karena itu pengaruh yang ditimbulkannya dalam merubah watak
dan karakter anak jauh lebih besar.
Masyarakat yang mayoritas
anggotanya hidup dalam kemaksiatan akan sangat
mempengaruhi perubahan watak anak kearah yang negatif. Dalam masyarakat seperti
ini akan tumbuh berbagai masalah yang merusak
ketenangan, kedamaian, dan ketentraman.
Anak yang telah di didik secara baik
oleh orang tuanya untuk selalu taat dan patuh pada perintah Allah Subhannahu
wa Ta'ala dan RasulNya, dapat saja tercemari oleh
limbah kemaksiatan yang merajalela disekitarnya. Oleh karena
itu untuk dapat mempertahankan kwalitas yang telah terdidik secara baik dalam
institusi keluarga dan sekolah, maka kita perlu bersama-sama menciptakan
lingkungan masyarakat yang baik, yang kondusif bagi
anak.
Masyarakat terbentuk atas
dasar gabungan individu-individu yang hidup pada suatu komunitas
tertentu. Karena dalam membentuk
masyarakat yang harmonis setiap individu memiliki peran dan tanggung jawab yang
sama. Persepsi yang keliru biasanya
masih mendominasi masyarakat. Mereka beranggapan bahwa
yang bertanggung jawab dalam masalah ini adalah pemerintah, para da’i, pendidik
atau ulama.
Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ
مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ
لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ. (رواه
مسلم).
Artinya: “Barangsiapa di antaramu melihat
kemungkaran hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak sanggup maka
dengan lidahnya, dan jika tidak sanggup maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Jika setiap orang merasa tidak memiliki
tanggung jawab dalam hal beramar ma’ruf nahi munkar, maka segala kemunkaran
bermunculan dan merajalela di tengah masyarakat kita dan lambat atau cepat pasti
akan menimpa putra dan putri kita. Padahal kedudukan
kita sebagai umat yang terbaik yang dapat memberikan ketentraman bagi masyarakat
kita hanya dapat tercapai jika setiap individu muslim secara konsisten
menjalankan amar ma’ruf nahi munkar,
karena Allah Subhannahu wa Ta'ala
berfirman:
Artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
munkar dan beriman kepada Allah...” (Ali Imran: 110).
Amar ma’ruf adalah kewajiban setiap individu masing-masing
yang harus dilaksanakan. Jika
tidak maka Allah Subhannahu wa Ta'ala , pasti akan
menimpakan adzabnya di tengah-tengah kita dan pasti kita akan tergolong
orang-orang yang rugi Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
Artinya: “Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang
yang beruntung.” (Ali-Imran: 104).
Untuk itu di akhir khutbah ini marilah kita
bersama-sama merasa peduli terhadap kelangsungan hidup generasi kita, semoga
dengan kepedulian kita itulah Allah Subhannahu wa
Ta'ala akan senantiasa menurunkan pertolonganNya kepada kita dan memenangkan
Islam di atas agama-agama lainnya. Marilah kita berdo’a kepada Allah Subhannahu
wa Ta'ala .
Oleh: Muh. S. Darwis
Jumat, 30 Januari 2015
10 Cara Mengajar Matematika Secara Kreatif
Berikut ini beberapa aktivitas yang dapat Anda
(guru) gunakan ketika mengajar matematika agar kelas Anda
menjadi kelihatan lebih hidup dan penuh dengan kreativitas. Ketika anak
Anda sedang belajar, cobalah pertanyaan ini; ” Apakah kamu pernah mencobanya
?”; “Apa yang terjadi jika ?”; “Apakah kamu yakin bisa ?”.
Pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut untuk meningkatkan pemahaman anak,
sekaligus meningkatkan gagasan matematika termasuk kosa kata dalam
bidang Matematika.
1. Mengajarlah Matematika dengan dramatisasi
Ada baiknya guru bisa mendramatisasi sebuah permasalahan. Misalnya, anak-anak disuruh merasakan berada dalam sebuah bola atau prisma, suruh mereka untuk merasakan permukaan, tepi dan sudut-sudutnya. Untuk mendramatisasi masalah aritmatika misalnya, suruh anak untuk berpura-pura bagaimana jika ia melompat ke dalam kolam, kemudian melompat lagi dan satu lagi. Berapakah jumlah keseluruhan lompatan mereka.
Ada baiknya guru bisa mendramatisasi sebuah permasalahan. Misalnya, anak-anak disuruh merasakan berada dalam sebuah bola atau prisma, suruh mereka untuk merasakan permukaan, tepi dan sudut-sudutnya. Untuk mendramatisasi masalah aritmatika misalnya, suruh anak untuk berpura-pura bagaimana jika ia melompat ke dalam kolam, kemudian melompat lagi dan satu lagi. Berapakah jumlah keseluruhan lompatan mereka.
2. Gunakan bagian tubuh mereka
Beritahu anak-anak untuk menunjukkan berapa banyak kaki, mulut, dan sebagainya yang mereka miliki. Ketika diminta untuk menunjukkan jumlah mereka “tiga tangan,” pasti mereka akan menanggapi protes keras, dan kemudian memberitahu berapa banyak yang mereka memiliki dan menunjukkan (“membuktikan”) itu. Kemudian mengajak anak-anak untuk menunjukkan angka dengan jari, misalnya dimulai dengan, “Berapa umurmu?” Untuk menampilkan angka dalam cara yang berbeda, misalnya, lima sebagai tiga di satu sisi dan dua di sisi lain.
3. Ajaklah anak-anak bermain
Libatkan anak-anak dalam bermain secara bersamaan yang memungkinkan mereka untuk melakukan perhitungan matematika dengan berbagai cara, termasuk pengurutan, menciptakan bentuk simetris dan kesebangunan, membuat pola, dan sebagainya. Kemudian perkenalkan mereka dengan permainan Toko Dinosaurus. Suruhlah anak-anak berpura-pura membeli dan menjual mainan dinosaurus atau benda kecil lainnya. Hal ini berarti mereka telah belajar berhitung, aritmatika, dan konsep uang.
3. Gunakan mainan anak-anak.
Dorong anak-anak untuk menggunakan permainan dan bertindak misalnya seperti tiga mobil di jalan, atau, dua monyet di atas pohon dan dua di tanah.
Beritahu anak-anak untuk menunjukkan berapa banyak kaki, mulut, dan sebagainya yang mereka miliki. Ketika diminta untuk menunjukkan jumlah mereka “tiga tangan,” pasti mereka akan menanggapi protes keras, dan kemudian memberitahu berapa banyak yang mereka memiliki dan menunjukkan (“membuktikan”) itu. Kemudian mengajak anak-anak untuk menunjukkan angka dengan jari, misalnya dimulai dengan, “Berapa umurmu?” Untuk menampilkan angka dalam cara yang berbeda, misalnya, lima sebagai tiga di satu sisi dan dua di sisi lain.
3. Ajaklah anak-anak bermain
Libatkan anak-anak dalam bermain secara bersamaan yang memungkinkan mereka untuk melakukan perhitungan matematika dengan berbagai cara, termasuk pengurutan, menciptakan bentuk simetris dan kesebangunan, membuat pola, dan sebagainya. Kemudian perkenalkan mereka dengan permainan Toko Dinosaurus. Suruhlah anak-anak berpura-pura membeli dan menjual mainan dinosaurus atau benda kecil lainnya. Hal ini berarti mereka telah belajar berhitung, aritmatika, dan konsep uang.
3. Gunakan mainan anak-anak.
Dorong anak-anak untuk menggunakan permainan dan bertindak misalnya seperti tiga mobil di jalan, atau, dua monyet di atas pohon dan dua di tanah.
4. Gunakan buku cerita anak-anak.
Banyak buku cerita anak-anak yang berkaitan secara tidak langsung dengan Matematika tetapi memiliki cerita yang baik juga.
Banyak buku cerita anak-anak yang berkaitan secara tidak langsung dengan Matematika tetapi memiliki cerita yang baik juga.
5. Gunakan pengalaman anak-anak
Cobalah untuk menggali pengalaman anak-anak dan doronglah agar pengalaman tersebut berhubungan dengan Matematika.
Cobalah untuk menggali pengalaman anak-anak dan doronglah agar pengalaman tersebut berhubungan dengan Matematika.
6.Gunakan kreativitas alami dari anak-anak.
Ide-ide anak-anak berkaitan dengan matematika harus didiskusikan dengan semua anak. Misalnya “percakapan matematika” antara dua anak laki-laki, masing-masing 6 tahun: “Pikirkan jumlah terbesar Anda dapat sekarang tambahkan lima lalu dan seterusnya.
Ide-ide anak-anak berkaitan dengan matematika harus didiskusikan dengan semua anak. Misalnya “percakapan matematika” antara dua anak laki-laki, masing-masing 6 tahun: “Pikirkan jumlah terbesar Anda dapat sekarang tambahkan lima lalu dan seterusnya.
7. Gunakan kemampuan anak
memecahkan masalah Matematika.Mintalah
anak-anak untuk menjelaskan bagaimana mereka mengetahui masalah misalnya,
berapa banyak snack yang mereka butuhkan jika ada teman lain yang bergabung
dengan kelompok. Dorong mereka untuk menggunakan jari-jari mereka sendiri atau
memanipulasi apapun yang mungkin berguna untuk pemecahan masalah.
8. Gunakan berbagai strategi.
Bawalah konsep Matematika kemanapun Anda pergi di kelas Anda, dari menghitung anak-anak pada pertemuan pagi, untuk mengatur meja, untuk meminta anak-anak untuk membersihkan nomor tertentu atau bentuk barang. Juga, menggunakan kurikulum berbasis penelitian untuk menggabungkan serangkaian kegiatan belajar diurutkan ke dalam program Anda.
Bawalah konsep Matematika kemanapun Anda pergi di kelas Anda, dari menghitung anak-anak pada pertemuan pagi, untuk mengatur meja, untuk meminta anak-anak untuk membersihkan nomor tertentu atau bentuk barang. Juga, menggunakan kurikulum berbasis penelitian untuk menggabungkan serangkaian kegiatan belajar diurutkan ke dalam program Anda.
9. Gunakan teknologi.
Cobalah kamera digital untuk merekam karya matematika anak-anak, dalam bermain mereka dan dalam kegiatan yang direncanakan, dan kemudian menggunakan foto untuk membantu diskusi dan refleksi dengan anak-anak, perencanaan kurikulum, dan komunikasi dengan orang tua. Gunakan komputer secara bijaksana.
Cobalah kamera digital untuk merekam karya matematika anak-anak, dalam bermain mereka dan dalam kegiatan yang direncanakan, dan kemudian menggunakan foto untuk membantu diskusi dan refleksi dengan anak-anak, perencanaan kurikulum, dan komunikasi dengan orang tua. Gunakan komputer secara bijaksana.
10.Gunakan penilaian untuk mengukur kemampuan
anak-anak belajar matematika.
Gunakan pengamatan, diskusi dengan anak-anak, dan
kegiatan kelompok kecil untuk belajar tentang berpikir matematika anak-anak dan
untuk membuat keputusan tentang apa sehingga setiap anak mungkin dapat belajar
dari pengalaman mereka.
Adapted from the Building Blocks project’s DLM
Early Childhood Express Math ; Clements & Sarama, 2003a; Schiller,
Clements, Sarama, & Lara-Alecio, 2003
Kamis, 15 Januari 2015
7 Cara Ajarkan Sopan Santun Pada Anak
Setiap orangtua ingin melihat anak-anaknya bersopan santun. Sikap sopan
anak, bagaimanapun adalah cerminan orangtuanya. Sayangnya, sopan santun
terkadang sulit diajarkan pada anak. Oleh karena itu, penting mengajarkan
anak-anak agar mengerti pentingnya sopan santun ketika orangtua mengajarkan
sopan santun itu sendiri. Dimana sopan santun adalah sebuah kepentingan bersama
yang patut dijaga agar setiap orang dapat hidup berdampingan di dunia. Dan,
sopan santun juga merfleksikan kepribadian yang penuh cinta dan tenggang rasa.
1. Hormat menghormati
Percaya atau tidak, mengajarkan sopan santun perlu dimulai dari bagaimana
orangtua memperlakukan anak sejak lahir. Menancapkan sopan santun dimulai dari
rasa hormat kepada orang lain dan menancapkan rasa hormat dimulai dari
sensitivitas terhadap orang lain termasuk anak. Anak yang sensitif akan secara
alami menjadi anak yang penuh hormat karena Ia selalu peduli akan perasaan
orang lain. Otomatis, anak yang sensitif juga akan menjadi anak yang sopan.
Kesopanan adalah sebuah skill yang lebih kreatif dan
tulus ketimbang apa yang bisa dipelajari anak dari sebuah buku etiket.
Dalam beberapa tahun terakhir, sangat dianjurkan orangtua mengajarkan anak-anak
untuk lebih “asertif.” Menjadi akan tetap asertif sehat, asalkan tidak
mengesampingkan kesopanan dan tata krama yang baik.
2. Ajarkan Kata-kata Sopan Sejak Dini
Ajarkan balita berusia 2 tahun Anda untuk mengatakan “minta tolong” dan
“terima kasih” sejak dini. Kendati mereka tak sepenuhnya mengerti arti
kata-kata tersebut, balita akan mengartikan kata “minta tolong” sebagai cara
tepat mendapatkan yang diinginkan. Begitu pula, kata “terima kasih” adalah cara
mengakhiri interaksi dengan baik. Tanamkan ini sebagai kebiasaan dan jadikan
kosakata yang baik bagi anak. Pada akhirnya mereka akan terbiasa dengan
pemahaman, membuat orang lain merasa senang juga penting ketika mereka
berinteraksi.
Jangan lupa, orangtua juga harus memulai lebih dulu
dengan kebiasaan baik ini. Bahkan ketika anak belum paham arti kata ini,
sebaiknya mereka terbiasa mendengar mommy atau
ayahnya kerap mengatakan ini. Anak-anak memang akan membeo kebiasaan ini,
namun kebiasaan ini baik ditanamkan jauh-jauh hari kendati mereka belum
benar-benar mengerti arti sebenarnya.
3. Teladan Sopan Santun
Sejak anak berusia 2 tahun hingga 4 tahun, kerap mengulang apa yang mereka
dengar. Biarkan anak-anak kerap mendengar kata-kata yang baik seperti “minta
tolong”, “terima kasih”, “terima kasih kembali”, dan “permisi”. Kendati
kata-kata ini ditujukan pada orang lain, anak-anak dapat belajar dari apa yang
mereka dengar dan lihat dari orang dewasa. Biarkan anak menangkap kesan dan
situasi dari pembicaraan yang sopan.
4. Ajarkan Memanggil Nama
Cobalah membiasakan memanggil nama ketika berinteraksi dengan anak-anak.
Namun tentu saja, dengan cara yang hangat. Anak-anak juga akan belajar sopan
santun dengan bicara menyertakan namanya, misal, “Ayah, bolehkah Ade…” atau
“Bu, apakah ibu ijinkan Ade..”. Kendati sesekali permintaan anak sedikit
mendesak atau memaksa, orangtua pasti akan lebih terkesan dengan kata-kata yang
sopan.
5. Tetap Perhatikan Anak
Sebuah pepatah lama yang mengatakan, “anak-anak sebaiknya melihat dan bukan
mendengar” mungkin diciptakan oleh orang yang tak memiliki anak. Ajaklah
anak-anak sesekali dalam kegiatan orang dewasa, terutama jika tak ada anak-anak
lain ikut serta. Ketika anak hanya berada di antara orang dewasa, mereka akan
kerap membuat masalah sebagai upaya mencari perhatian Anda. Bahkan anak yang
selama ini berperilaku baik sekalipun.
Cobalah memperkenalkan dan menyertakan kehadiran sang anak, ini akan
mengajarkan keterampilan sosial pada anak. Tetaplah terkoneksi dan
pertimbangkan situasi anak yang dapat memperlihatkan perilaku kurang
menyenangkan. Selama aktivitas Anda bersama orang dewasa lain, upayakan tetap
dekat dengan anak paling kecil Anda. Jangan lupa tetap lakukan kontak mata dan
berbicara padanya. Bantulah anak merasa menjadi bagian dari aktivitas
sehingga dapat mengusir kebosanan dan keinginan membuat masalah.
6. Jangan Paksakan Sopan Santun
Bahasa adalah kemampuan yang sebaiknya mengalir, bukan dipaksakan. Boleh
saja sesekali Anda meminta anak mengatakan “minta tolong” atau “terima kasih”.
Selalu mengulang (secara kaku) meminta anak mengatakan “kata ajaib” sebagai
syarat memberikan sesuatu, akan membuat anak merasa bosan dengan kata-kata
sopan sebelum mereka memahaminya. Jika Anda ingin meminta anak mengatakan
“minta tolong”, sebaiknya sekedar katakan saja dengan cara yang baik. Dan
pastikan mereka mendengar kalimat yang Anda utarakan. Kebiasaan ini akan lebih
cepat ditangkap jika Anda memberikan permintaan dengan kalimat-kalimat yang
enak didengar sembari senyum terkembang di wajah orangtua.
7. Koreksi Secara Sopan
Ketika anak membuat sebuah kebodohan atau kesalahan, jaga intonasi
dan suara tetap terkontrol. Tetap upayakan kontak mata dan letakkan tangan di
bahunya sembari menasihati. Gestur ini merefleksikan jika orangtua mengoreksi
anak karena kepeduliannya. Dan, bukan karena marah.
Kesopanan yang diperlihatkan pada anak akan menunjukkan betapa berharganya
anak di mata orangtua. Dan, orangtua ingin anak belajar dari kesalahannya serta
selalu mendengarkan nasihat orangtua. Kelak, anak juga akan menjadi orang
dewasa yang dapat menghormati dan menghargai orang lain.
Jadi, pernahkah Anda perhatikan mengapa anak-anak bisa menjadi anak yang
sopan? Alasannya, karena mereka dibesarkan di lingkungan yang memberikan mereka
kesopanan.
Yuk ...... mulai
ajarkan kesopanan pada anak-anak dari sekarang!
Wallahu A’lam
disadur dari: https://pendidikanagamausiadini.wordpress.com/2013/03/01/tips-mudah-7-cara-ajarkan-sopan-santun-pada-anak/
Langganan:
Komentar (Atom)
